TVRINews, Jakarta
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan pelibatan lintas matra militer untuk menekan impor komoditas strategis dan mengamankan transformasi bangsa.
Pemerintah Indonesia secara resmi mengerahkan kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memperkuat sektor ketahanan pangan nasional, sebagai upaya nyata menekan ketergantungan pada komoditas impor, khususnya kedelai, padi, dan jagung.
Sebelumnya pada rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan bahwa kebijakan ini melibatkan pembagian tugas spesifik antar-matra militer.
TNI Angkatan Darat (AD) diinstruksikan untuk fokus pada sektor pertanian padi, jagung, serta tanaman palawija. Sementara itu, TNI Angkatan Laut (AL) mendapatkan mandat khusus untuk mengoptimalkan produksi kedelai nasional.
"Untuk Angkatan Darat, tugasnya pertanian jagung dan padi, selain palawija. Angkatan Laut kedelai," ujar Sjafrie dikutip Sabtu 23 Mei 2026.
Sjafrie menambahkan bahwa kolaborasi intensif dengan Kementerian Pertanian ini ditargetkan mampu memacu produktivitas domestik secara signifikan.
Isu ketergantungan impor kedelai menjadi salah satu perhatian utama yang ingin segera diatasi melalui sinergi ini.
Sebagai bentuk implementasi di lapangan, TNI Angkatan Laut baru-baru ini telah melaksanakan panen raya kedelai yang berlokasi di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Langkah konkret tersebut menjadi indikator awal dari kesiapan militer dalam mendukung kedaulatan pangan.
Peran Militer sebagai 'Sabuk Pengaman' Negara
Secara regulasi, Menhan menegaskan bahwa keterlibatan militer dalam program non-tempur ini memiliki landasan hukum yang kuat. Kebijakan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara serta regulasi terbaru, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI.
Menurut Sjafrie, peran TNI dalam program swasembada ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan bagian dari visi besar yang lebih strategis bagi masa depan negara.
"Kami ingin menjadi safety belt (sabuk pengaman) dalam rangka mengamankan strategi transformasi bangsa, di dalamnya ada swasembada pangan, swasembada energi, koperasi desa hingga desa nelayan. Nah, kami adalah sabuk pengaman," pungkasnya.
Selain memperkuat sektor hulu pangan, kontribusi aktif TNI ini juga diproyeksikan untuk mendukung keberlanjutan program-program sosial strategis pemerintah, termasuk penyediaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar masyarakat luas.










