TVRINews, Fakfak
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin memfasilitasi pelatihan dan transfer teknologi tepat guna bagi kelompok perempuan serta nelayan di Kampung Sahari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, untuk mengolah hasil tangkapan laut menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
Melalui pendampingan tersebut, warga yang sebelumnya hanya menjual ikan segar kini mampu memproduksi bakso, nugget, kerupuk, abon, hingga sambal ikan secara mandiri. Salah satu bahan baku utama yang dimanfaatkan adalah ikan sibula, jenis ikan melimpah di perairan setempat yang selama ini kurang diminati dan bernilai jual rendah.
Peserta pendampingan, Nayu Ohebor, mengungkapkan bahwa program ini membuka peluang baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat desa.
“Alhamdulillah, hari ini kami sudah bisa mengelola ikan menjadi abon, bakso, nugget, dan kerupuk. Tadinya ikan hanya kami jual utuh atau untuk dimakan. Sekarang kami bisa bekerja mandiri untuk menambah ekonomi rumah tangga,” kata Nayu dalam keterangan yang diterima, Selasa 8 September 2026.
Program pendampingan dari TEP Unhas ini juga membekali warga dengan teknik sterilisasi pengemasan. Dengan metode tersebut, produk olahan seperti sambal ikan mampu bertahan hingga empat bulan pada suhu ruang tanpa bahan pengawet.

Ketua TEP Unhas, Kasmiati, menjelaskan bahwa fokus utama pendampingan terletak pada keberlanjutan usaha warga secara mandiri.
“Kami melakukan pendampingan intensif kepada warga agar mereka benar – benar dapat melakukan pengolahan hasil laut secara mandiri dan kedepan ini akan menjadi kemandirian ekonomi untuk mereka,” ungkap Kasmiati.
Sebanyak 20 perempuan dibagi ke dalam empat kelompok usaha kecil yang dibekali peralatan produksi. Selain kelompok perempuan, para nelayan laki-laki juga mendapatkan pelatihan penanganan pascatangkapan ikan secara higienis. Seluruh sarana produksi diserahkan kepada warga agar aktivitas pengolahan dapat terus berjalan.
Warga setempat pun berencana meresmikan kelompok usaha bersama.
“Insyaallah kami bermusyawarah untuk membentuk satu kelompok usaha permanen dari hasil kegiatan ini. Harapan kami, program seperti ini terus didatangkan ke Kampung Sahari,” ujar Nayu.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai keberhasilan di Fakfak menunjukkan pentingnya pendekatan pembangunan yang berbasis potensi lokal.
“Tidak ada pembangunan di tanah air ini yang one size fits all. Sistemnya harus tailor-made,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Program pemberdayaan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menguatkan ketahanan pangan serta hilirisasi berbasis masyarakat desa.
“Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Kita membangun ketahanan pangan nasional. Kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa. Pembangunan harus memastikan rakyat menjadi pelaku utama dan penerima manfaat dari kemajuan ekonomi nasional,” tegas Presiden Prabowo.
Melalui program ini, produk olahan laut dari Kampung Sahari diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar dan menjadi produk unggulan daerah di Papua Barat.










