TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan mengembangkan keterampilan agar mampu menghadapi persaingan di dunia kerja yang semakin dinamis.
Menurut Afriansyah, kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan capaian akademik dan ijazah. Mahasiswa juga perlu membekali diri dengan keterampilan praktis, pengalaman profesional, serta kemampuan menciptakan peluang usaha.
Ia menekankan pentingnya membangun kualitas diri sejak masih menempuh pendidikan tinggi agar lulusan perguruan tinggi memiliki daya saing dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri.
“Mahasiswa perlu menyeimbangkan prestasi akademik dengan penguasaan keterampilan dan pengalaman lapangan. Bekal tersebut penting, bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga untuk mengembangkan usaha dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” ujar Afriansyah dalam keterangannya, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Afriansyah juga meminta mahasiswa memanfaatkan program magang sebagai sarana mengenal lingkungan kerja secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memahami budaya kerja, meningkatkan kedisiplinan, serta mengasah kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi.
Menurutnya, pengalaman magang dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata di dunia industri maupun usaha.
“Pengalaman di tempat magang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. Di sana, mereka juga belajar menghadapi tantangan pekerjaan, membangun tanggung jawab, dan bekerja sama dalam tim,” katanya.
Lebih lanjut, Wamenaker menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai perlu diperkuat agar proses penyiapan tenaga kerja berjalan selaras dengan kebutuhan pasar, mulai dari pendidikan dan pelatihan hingga sertifikasi kompetensi dan penempatan kerja.
Afriansyah menjelaskan, pendekatan pengembangan talenta tidak cukup berhenti pada penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Diperlukan pula konektivitas yang berkelanjutan agar calon tenaga kerja memiliki akses terhadap pelatihan dan kesempatan kerja yang relevan.
“Melalui kolaborasi berbagai pihak, penyiapan tenaga kerja perlu dilakukan secara terintegrasi. Pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan akses ke pasar kerja harus saling terhubung agar mahasiswa memiliki jalur yang lebih jelas dalam mengembangkan karier,” ungkapnya.
Ia menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Connect to Grow, yakni upaya menghubungkan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan pasar kerja dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Kementerian Ketenagakerjaan berharap mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai peluang pengembangan kompetensi sejak dini sehingga lebih siap memasuki dunia profesional maupun menjadi wirausaha.
Dengan penguatan keterampilan, pengalaman kerja, dan kolaborasi lintas sektor, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia.










