TVRINews, Jawa Barat
Universitas Teknologi Bandung (UTB) menyiapkan 438 calon talenta global melalui berbagai program pelatihan dan penyiapan tenaga kerja untuk membuka peluang kerja di pasar internasional. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin mendorong perluasan akses pelatihan agar calon pekerja migran Indonesia (CPMI) memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri global.
Upaya tersebut ditandai dengan peresmian Migrant Center dan kelas pelatihan program SMK Go Global di UTB, Jawa Barat, Jumat, 9 Oktober 2026. Kedua fasilitas ini menjadi bagian dari kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi dalam memperkuat penyiapan tenaga kerja yang terampil, profesional, dan terlindungi.
Mukhtarudin mengapresiasi komitmen UTB dalam membangun sinergi dengan Kementerian P2MI untuk memperkuat ekosistem penyiapan pekerja migran Indonesia. Menurutnya, penyiapan tenaga kerja tidak cukup hanya berorientasi pada penempatan di luar negeri, tetapi juga harus diimbangi peningkatan keterampilan dan pelindungan secara menyeluruh.
"Pada saat yang sama, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas agar calon pekerja migran Indonesia mampu beralih dari pekerjaan berketerampilan rendah menuju pekerjaan dengan keterampilan menengah dan tinggi," ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, peningkatan kualitas calon pekerja migran dilakukan melalui pelatihan keterampilan, pendidikan vokasi, sertifikasi, dan penguasaan bahasa asing yang disesuaikan dengan standar serta kebutuhan pasar kerja internasional.
Pelindungan juga menjadi perhatian pemerintah, mulai dari tahap sebelum keberangkatan, selama bekerja di negara tujuan, hingga setelah kembali ke Tanah Air.
UTB Siapkan 438 Calon Talenta Global
Rektor UTB, Muchammad Naseer mengatakan sebanyak 438 calon talenta global dipersiapkan melalui sejumlah jalur pelatihan dan penyiapan tenaga kerja.
Rinciannya, 169 peserta mengikuti program SMK Go Global, 119 peserta dipersiapkan untuk bekerja di Jepang melalui pembiayaan mandiri, 50 peserta berasal dari program Pemerintah Kota Bandung, serta 100 peserta memperoleh dukungan pelatihan dan asrama dari Pemerintah Kabupaten Majalengka.
Khusus program SMK Go Global, sebanyak 169 peserta mengikuti sembilan kelas pelatihan dengan fokus pada keterampilan teknis dan bahasa Inggris.
Sebanyak 113 peserta mengikuti pelatihan bidang Operation Production dan bahasa Inggris dalam enam kelas. Kemudian, 40 peserta mengikuti pelatihan manufaktur dan bahasa Inggris dalam dua kelas yang telah diselesaikan pada 9 September 2026. Sementara itu, 16 peserta lainnya mengikuti satu kelas pelatihan bahasa Inggris.
Mukhtarudin meminta para peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh serta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kemampuan teknis, bahasa, kedisiplinan, dan pemahaman terhadap budaya kerja di negara tujuan.
"Kepada seluruh peserta, ikutilah pelatihan dengan sungguh-sungguh dan manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Tingkatkan kompetensi, kemampuan bahasa, disiplin, serta pemahaman terhadap budaya kerja di negara tujuan sebagai bekal untuk meraih peluang kerja yang lebih baik," pesannya.
Targetkan 2.000 Kelas Pelatihan di Seluruh Indonesia
Untuk memperluas akses peningkatan kompetensi calon pekerja migran, Kementerian P2MI mengembangkan program Asta Mandala SMK Go Global dengan target pembukaan 2.000 kelas pelatihan yang tersebar di 23 wilayah kerja Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di seluruh Indonesia.
Program tersebut memiliki lima sasaran keberhasilan atau Panca Sukses, yakni sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya menargetkan penempatan pekerja migran, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kementerian P2MI juga memperkuat kerja sama dengan 12 kementerian dan lembaga melalui 258 lembaga vokasi pekerja migran, dengan kapasitas pelatihan mencapai 248.141 orang per tahun.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pelatihan sekaligus memastikan kompetensi calon pekerja migran sesuai dengan persyaratan negara tujuan dan kebutuhan industri internasional.
Migrant Center Perkuat Layanan Calon Pekerja Migran
Selain kelas pelatihan, Migrant Center UTB diresmikan sebagai pusat layanan terpadu atau one-stop service bagi calon pekerja migran Indonesia.
Fasilitas ini dirancang untuk menyediakan informasi peluang kerja, pemetaan kompetensi, pelatihan, sertifikasi, penguasaan bahasa asing, hingga pendampingan karier. Keberadaannya diharapkan menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Rektor UTB Muchammad Naseer berharap kolaborasi dengan Kementerian P2MI dan perguruan tinggi lainnya dapat membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk bekerja di luar negeri sekaligus melanjutkan pendidikan formal hingga jenjang sarjana.
Menurutnya, perguruan tinggi juga dapat berperan dalam memantau perkembangan peserta selama bekerja di luar negeri, termasuk kondisi pekerjaan, keberlanjutan pendidikan, dan persoalan yang mungkin dihadapi selama menjalani kontrak kerja.
Naseer turut menyoroti kontribusi pekerja migran terhadap perekonomian nasional. Dalam sambutannya, ia menyebut remitansi pekerja migran Indonesia mencapai sekitar Rp288 triliun per tahun.
Melalui perluasan pelatihan dan penguatan layanan terpadu, pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan kesiapan generasi muda memasuki pasar kerja internasional. Dengan demikian, peluang kerja di luar negeri dapat diiringi peningkatan keterampilan, pelindungan, serta kesejahteraan pekerja migran dan keluarganya.










