TVRINews, Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas melalui penguatan layanan pendidikan, kesehatan, mobilitas, perlindungan sosial, hingga ketenagakerjaan.
Pramono mengatakan, upaya membangun Jakarta yang inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan akses dan fasilitas. Pemerintah juga harus memastikan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan kota. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama dalam pembukaan Special Kids Expo atau Neurodiversity Expo (SPEKIX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 Oktober 2026.
"Jakarta ingin bergerak dari sekadar memberikan akses menjadi membuka kesempatan, sehingga penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan kota," ujar Pramono dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Pemprov DKI Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Di bidang pendidikan, Pemprov DKI Jakarta memiliki 88 Sekolah Luar Biasa (SLB), yang terdiri atas 13 SLB negeri dan 75 SLB swasta. Selain itu, Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus Tahap II Tahun 2026 telah disalurkan kepada 2.764 siswa SLB.
Pada sektor kesehatan, layanan ramah disabilitas tersedia di 44 puskesmas dan 31 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Untuk mendukung mobilitas, Pemprov DKI Jakarta juga mengoperasikan 37 bus sekolah ramah disabilitas yang melayani 10 rute.
Sementara itu, dalam aspek perlindungan sosial, Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) telah disalurkan kepada 20.890 penerima per September 2026. Pemprov DKI turut menyediakan alat bantu fisik, seperti kursi roda, alat bantu dengar, dan tongkat.
Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong perluasan kesempatan kerja dan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas. Saat ini, tercatat sebanyak 4.324 pekerja penyandang disabilitas di Jakarta.
Selain itu, pemerintah daerah menggelar bursa kerja khusus yang menyediakan 500 lowongan pekerjaan serta melibatkan 133 penyandang disabilitas sebagai mitra binaan program Jakpreneur.
"Inklusi harus sampai pada kesempatan bekerja dan mandiri, bukan semata-mata membangun gedung tinggi melainkan sentuhan keberpihakan seperti inilah yang membuat Jakarta lebih nyaman, aman, dan kolaboratif," tuturnya.
Menurutnya, SPEKIX menjadi salah satu ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem inklusi agar kebijakan pemenuhan hak penyandang disabilitas terus berkembang dan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas.
SPEKIX 2026 mengusung tema xSustaining Inclusion, Empowering Future" yang menekankan pentingnya komitmen berkelanjutan dalam mewujudkan inklusi bagi individu berkebutuhan khusus.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi menilai upaya Pemprov DKI Jakarta dalam memenuhi hak anak berkebutuhan khusus dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
"DKI Jakarta bisa menjadi pilot project bagaimana Pemerintah DKI Jakarta mencoba dan berusaha memberikan akses yang sama untuk anak-anak kita tumbuh dan berkembang dalam pemenuhan hak-haknya," ucap Arifatul.
Ia menegaskan, pembangunan ekosistem inklusi membutuhkan kesinambungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat bergantung pada satu pihak atau berhenti sebagai program dan kegiatan yang bersifat sementara.
SPEKIX 2026 berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan 35 seminar dan lokakarya, pameran dari 129 tenant, panggung pertunjukan, serta layanan konsultasi gratis bersama psikolog dan terapis.
Penyelenggara SPEKIX 2026, Srihartati, menjelaskan kegiatan tersebut berawal dari kebutuhan para orang tua akan ruang informasi dan pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus. Melalui SPEKIX, pihaknya berharap orang tua dapat memperoleh informasi dan dukungan yang dibutuhkan.
Salah satu pengunjung asal Cikarang, Muzdalifah (40), yang hadir bersama putranya, Abdul Bahar Alparizi (15), berharap layanan dalam penyelenggaraan SPEKIX dapat terus diperluas, termasuk pemeriksaan mata bagi anak penyandang disabilitas.










