TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah hingga Senin, 22 Juni 2026 pukul 07.00 WIB. Bencana tersebut meliputi banjir di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, banjir rob di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan penanganan dan pemantauan di lokasi terdampak guna mempercepat proses pemulihan.
"BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat upaya mitigasi sesuai karakteristik risiko di masing-masing wilayah,"ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 23 Juni 2026.
Banjir Parigi Moutong Rendam Ratusan Rumah
Banjir melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, setelah hujan berintensitas tinggi menyebabkan sungai meluap pada Sabtu, 20 Juni 2026 malam. Sedikitnya enam desa di empat kecamatan terdampak oleh luapan air tersebut.
Data sementara mencatat sebanyak 146 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 32 KK sempat mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Selain berdampak pada warga, banjir juga merendam sekitar 166 rumah, dengan dua unit mengalami kerusakan ringan. Sebanyak 70 hektare sawah dan dua hektare kebun turut terdampak. Kerusakan infrastruktur meliputi tiga jembatan yang rusak berat dan satu saluran air yang jebol.
BPBD Kabupaten Parigi Moutong bersama PMI, TNI-Polri, perangkat desa, dan unsur terkait lainnya telah melakukan asesmen serta penanganan darurat. Kebutuhan mendesak warga saat ini antara lain selimut, tikar atau matras, serta bantuan logistik pangan.
Menurut BNPB, genangan di sejumlah lokasi mulai surut dan sebagian warga telah kembali ke rumah untuk membersihkan lingkungan pascabanjir.
Rob di Pati Terdampak 127 KK
Sementara itu, banjir rob kembali menerjang wilayah pesisir Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akibat kenaikan muka air laut yang diperparah oleh jebolnya tanggul laut di Kecamatan Tayu pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Desa Tunggulsari menjadi wilayah yang paling terdampak. Sebanyak 127 KK terdampak akibat genangan yang masuk ke permukiman. Meski belum ada warga yang mengungsi, pemerintah desa telah menyiapkan lokasi evakuasi sementara untuk mengantisipasi kondisi yang memburuk.
Banjir rob juga berdampak pada 73 rumah, merendam sekitar 85 hektare tambak, serta menggenangi jalan desa sepanjang 2,3 kilometer.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD Kabupaten Pati telah menyalurkan bantuan logistik dan mengalokasikan dana Rp60 juta guna memperbaiki tanggul yang jebol. Bantuan geotekstil dari BPBD Jawa Tengah juga telah disalurkan untuk mendukung perbaikan di kawasan tambak.
Petugas bersama warga turut membangun tanggul darurat menggunakan karung berisi tanah dan melakukan berbagai upaya pengendalian rob guna mencegah genangan semakin meluas.
Saat ini kondisi rob dilaporkan mulai surut, namun pemantauan tetap dilakukan mengingat potensi pasang air laut masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Karhutla Situbondo Hanguskan 4 Hektare Lahan
Di Jawa Timur, kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Perbukitan Batu Kodok, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Minggu, 21 Juni 2026 sore. Kebakaran menghanguskan sekitar empat hektare lahan ilalang kering. Tidak ada korban jiwa maupun warga terdampak dalam kejadian tersebut.
BPBD Kabupaten Situbondo bersama pihak terkait segera melakukan asesmen dan penanganan di lapangan sehingga api berhasil dikendalikan sebelum meluas ke area lain.
Peristiwa ini terjadi saat Provinsi Jawa Timur berstatus Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla yang berlaku hingga 6 Oktober 2026.
"Kesiapsiagaan yang dilakukan sejak dini merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko, melindungi keselamatan jiwa, dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan,"jelasnya.
BNPB memastikan kondisi kebakaran saat ini telah terkendali. Meski demikian, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru selama musim kemarau berlangsung.










