TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak. Hal itu disampaikan dalam Festival Pahlawan Anak yang digelar Save the Children Indonesia di Jakarta.
Festival tersebut menjadi ruang bagi 14 anak dari program Nona Hebat untuk menyampaikan gagasan dan harapan terkait pencegahan perundungan, perlindungan dari kekerasan dan pelecehan seksual, serta terciptanya sekolah yang aman dan inklusif.
Menanggapi aspirasi anak-anak tersebut, Abdul Mu’ti mengatakan gagasan tentang sekolah yang aman dan nyaman sejalan dengan program Kemendikdasmen. Upaya tersebut juga selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui gerakan Budaya ASRI, yakni aman, sehat, resik, dan indah.
“Banyak ide yang menarik tentang bagaimana sekolah dapat menjadi tempat di mana mereka merasa aman, merasa nyaman untuk belajar. Dan ini yang juga sejalan dengan program yang sudah kami laksanakan, membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman,”ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, dikutip, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Abdul Mu’ti, budaya sekolah yang aman perlu dibangun dengan pendekatan humanis, inklusif, dan partisipatif. Kemendikdasmen juga mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk mencegah perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Mudah-mudahan program seperti ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama, bahkan menjadi budaya yang kita laksanakan berdasarkan kesadaran dan juga visi bahwa masa depan negara ini ditentukan oleh anak-anak kita,”jelasnya.
Ia berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi anak untuk berinteraksi dan tumbuh bersama dalam keberagaman.
Menteri PPPA Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Anak
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menekankan pentingnya membangun ruang aman bagi anak melalui keterlibatan seluruh pihak.
Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024, sebanyak 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Sementara 33,64 persen mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.
Arifah mengatakan data tersebut mencerminkan pengalaman takut, kecewa, khawatir, hingga trauma yang dialami anak. Karena itu, upaya perlindungan harus dilakukan sebelum kekerasan terjadi.
“Ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Ini harus bersama-sama,”ucapnya.
Ia menambahkan, ruang aman bagi anak perlu diwujudkan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, hingga ruang digital.
Save the Children Tekankan Pentingnya Mendengar Suara Anak
Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Dewi Soeharto, mengatakan ruang aman memungkinkan anak menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi, direndahkan, atau disakiti.
Menurutnya, orang dewasa memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ruang tersebut. Salah satu langkah awal yang penting adalah mendengarkan suara anak.
“Tentunya pertama kalinya adalah dengan mendengarkan anak-anak. Mendengar tidak hanya menggunakan telinga kita, tapi dengan segenap hati, isi pikiran kita,”ungkap Dewi.
Ia berharap Festival Pahlawan Anak tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi mendorong semakin banyak pihak untuk mendengarkan suara anak dan mengambil tindakan nyata.










