TVRINews, Gorontalo
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menghentikan praktik pencurian kekayaan alam Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa upaya tersebut membutuhkan proses dan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam sambutannya pada Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan 2026 di Gorontalo, Rabu, 24 Juni 20226.
Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah saat ini tengah bekerja serius untuk menertibkan berbagai kebocoran sumber daya alam yang merugikan negara. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hasil dari kebijakan tersebut tidak akan langsung terlihat.

“Saya bertekad bersama tim saya untuk menghentikan kekayaan Indonesia yang dicuri. Namun mungkin hasilnya tidak langsung terlihat dalam waktu singkat,” ujar Presiden Prabowo, Rabu, 24 Juni 2026.
Ia kemudian mengibaratkan proses pembangunan dan perbaikan ekonomi seperti aktivitas para petani yang membutuhkan waktu sebelum bisa menikmati hasil panen.
Menurutnya, tidak ada perubahan besar yang bisa terjadi secara instan karena seluruh proses pembangunan membutuhkan tahapan yang konsisten.
“Presiden Republik Indonesia tidak punya tongkat ajaib. Saya bukan Nabi Musa atau Nabi Sulaiman,” katanya.
Presiden Prabowo menjelaskan, dalam sektor pertanian saja, setiap komoditas memiliki siklus waktu yang berbeda sebelum menghasilkan panen. Hal itu, menurutnya, mencerminkan bahwa hasil dari kebijakan negara juga memerlukan kesabaran.
“Kalau menanam padi butuh sekitar tiga bulan untuk panen. Kelapa sawit bisa lima tahun, dan singkong sekitar sepuluh bulan,” ucapnya.
Meski tidak dapat dirasakan secara instan, Prabowo meyakini sejumlah program pemerintah sudah mulai menunjukkan hasil, khususnya di sektor pangan.
Ia menyebut salah satu capaian yang mulai terlihat adalah arah kebijakan menuju kemandirian pangan nasional.
“Upaya kita mungkin tidak langsung, tapi sekarang sudah mulai terlihat hasilnya, yaitu menuju swasembada pangan,” tegasnya.










