
Foto: Pertamina PSI
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Pemerintah antisipasi krisis energi dengan mengalihkan pasokan dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah mitigasi strategis guna mengamankan ketahanan energi nasional menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah ini memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan minyak mentah dunia, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa langkah antisipatif ini diambil berdasarkan arahan Presiden untuk merespons dampak perang yang melibatkan kekuatan besar di kawasan tersebut.
"Melihat perkembangan global, penutupan Selat Hormuz akibat konflik ini berdampak signifikan pada energi dunia. Kami mengambil skenario terburuk dengan mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat demi kepastian ketersediaan," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, yang dikutip rabu 4 Maret 2026.
Diversifikasi Pasokan Energi
Data kementerian menunjukkan bahwa sekitar 20 hingga 25 persen total impor minyak mentah Indonesia bergantung pada distribusi melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, sisanya dipasok dari wilayah Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil. Ketidakpastian durasi konflik menjadi alasan utama pemerintah untuk tidak lagi bertumpu pada jalur distribusi di zona merah tersebut.
Senada dengan kebijakan pemerintah, PT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa saat ini terdapat sekitar 19 persen kargo minyak mentah perusahaan yang berasal dari Timur Tengah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa perusahaan telah mengaktifkan protokol distribusi darurat.
"Kami telah menerapkan sistem reguler, alternatif, hingga emergensi untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi," jelas Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3).
Nasib Aset di Zona Konflik
Selain kendala distribusi, Pertamina saat ini tengah memantau ketat keberadaan empat unit kapal pengangkut minyak milik perusahaan yang berada di kawasan Timur Tengah. Dua di antaranya dilaporkan masih tertahan di dalam Selat Hormuz yang kini ditutup total.
Pihak Pertamina memastikan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan kru dan keamanan aset negara.
"Kondisi kapal saat ini masih aman. Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan awak kapal serta Kementerian Luar Negeri untuk langkah pengamanan lebih lanjut," tambah Baron.
Langkah pengalihan impor ke Amerika Serikat ini dipandang sebagai upaya pragmatis Indonesia untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada dinamika geopolitik Timur Tengah yang sulit diprediksi, sekaligus menjaga stabilitas harga dan stok bahan bakar di dalam negeri.
Editor: Redaktur TVRINews
