TVRINews, Denpasar
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten dan adaptif untuk menghadapi komplikasi penyakit yang semakin kompleks, khususnya kanker.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat membuka The 4th International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Sciences (ICMAHS) 2026 di Auditorium Poltekkes Kemenkes Denpasar.
"Penyakit kanker memiliki komplikasi kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien," ujar Wamenkes Benny dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 8 Oktober 2026.
Konferensi internasional yang berlangsung pada 6–7 Oktober 2026 tersebut mengusung tema “Advancing Cancer Care Across the Continuum: Innovations in Early Detection, Precision Treatment, Survivorship, and Quality of Life”.
Forum ini menjadi wadah kolaborasi internasional untuk membahas penguatan deteksi dini, pengobatan presisi, hingga peningkatan kualitas hidup penyintas kanker.
Wamenkes Benny mengatakan, penguatan pelayanan kesehatan tersebut sejalan dengan prioritas pemerintah dalam pencegahan dan pengendalian penyakit. Salah satu upaya yang dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis.
"Banyak kasus penyakit seperti hipertensi dan diabetes sebenarnya bisa dicegah. Sering kali pasien baru menyadari kondisi penyakitnya ketika organ tubuh sudah rusak karena tidak bergejala pada tahap awal," jelasnya.
Selain skrining kesehatan, Kemenkes juga mengintensifkan pencegahan kanker serviks melalui imunisasi Human Papillomavirus (HPV). Vaksinasi tersebut diberikan secara bertahap dengan sasaran utama siswi kelas 5 dan 6 SD, kemudian diperluas ke kelompok usia lainnya sesuai dengan ketersediaan anggaran.
Sementara itu, Direktur Poltekkes Kemenkes Denpasar Erika Yulita Ichwan mengatakan penanganan kanker perlu dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari promosi kesehatan, deteksi dini, terapi yang tepat, hingga masa pascapengobatan atau survivorship.
Menurut Erika, keberhasilan perguruan tinggi kesehatan tidak hanya dilihat dari jumlah lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga dari dampak inovasi yang dihasilkan terhadap masyarakat.
"Kami ingin penelitian tidak berhenti pada publikasi dan inovasi tidak mandek sebagai prototipe. Keduanya harus diterjemahkan menjadi praktik berbasis bukti (evidence-based practice) serta rekomendasi bagi pembangunan kesehatan," ungkap Erika.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes Benny juga mengapresiasi capaian sejumlah indikator kesehatan di Provinsi Bali, di antaranya angka stunting, TBC, dan kematian ibu yang disebut rendah.
Kemenkes berencana mempelajari praktik baik dari Bali untuk diterapkan secara lebih luas di tingkat nasional.
Wamenkes Benny turut meninjau pameran inovasi mahasiswa. Ia juga membuka peluang produk makanan sehat yang dikembangkan Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar untuk diintegrasikan sebagai salah satu varian menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).










