TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia dan South Australia membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang pendidikan tinggi, riset, sains, dan teknologi. Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan delegasi South Australia di Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, mengatakan hubungan Indonesia dan Australia selama ini telah berkembang melalui berbagai program pendidikan, penelitian, serta pengembangan sumber daya manusia.
Menurutnya, kemitraan akademik antara kedua negara perlu terus diperkuat agar menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Kolaborasi dengan universitas dan komunitas akademik Australia merupakan salah satu cara yang baik untuk membangun praktik akademik yang berkualitas, bukan sekadar mencantumkan nama dalam publikasi, tetapi menghadirkan kolaborasi yang nyata antara komunitas akademik Indonesia dan Australia,” kata Najib kutip pada Jumat, 19 Juni 2026.
Ia menjelaskan Australia masih menjadi salah satu destinasi favorit mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Selain itu, kerja sama penelitian antara perguruan tinggi kedua negara juga terus menunjukkan perkembangan yang positif.
Berdasarkan data Kemdiktisaintek hingga April 2026, terdapat 913 dokumen kerja sama aktif antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan Australia. Kerja sama tersebut mencakup penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, pengembangan kurikulum, penyelenggaraan konferensi ilmiah, hingga program gelar ganda.
Dalam pertemuan itu, Kemdiktisaintek juga memperkenalkan sejumlah program unggulan untuk pengembangan talenta nasional, di antaranya Program Sekolah Garuda dan Beasiswa Garuda. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses generasi muda Indonesia terhadap pendidikan berkualitas dan penguatan kapasitas di bidang sains dan teknologi.
Selain pendidikan, kedua pihak turut membahas penguatan kolaborasi riset internasional. Salah satu program yang telah berjalan adalah Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi Australia–Indonesia (KONEKSI), yang mendukung penelitian pada sektor prioritas seperti transisi energi, digitalisasi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Sementara itu, Vice-Chancellor dan President Flinders University, Colin Stirling, menyampaikan komitmen institusinya untuk terus memperluas kemitraan dengan Indonesia. Saat ini, Flinders University telah menjalin kerja sama dengan sekitar 50 institusi di Indonesia serta menghasilkan berbagai publikasi ilmiah kolaboratif.
“Kami melihat peluang yang sangat besar untuk memperluas kerja sama, tidak hanya dalam pendidikan tinggi, tetapi juga di bidang sains, teknologi, dan pengembangan talenta yang dibutuhkan di masa depan,” ujar Colin.
Delegasi South Australia juga memaparkan berbagai inisiatif yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan ekosistem inovasi. Diskusi menyoroti pentingnya mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik global, tetapi juga pengalaman praktis serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Sejumlah sektor yang menjadi fokus pembahasan meliputi kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, transisi energi, dan pengembangan mineral kritis. Kedua pihak berharap kerja sama yang lebih erat dapat memberikan manfaat bagi penguatan kapasitas riset dan pembangunan sumber daya manusia di masa mendatang.










