TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mendorong penerapan paradigma pengembangan wilayah aglomerasi polisentris guna mengikis ego sektoral serta mewujudkan pemerataan ekonomi di tingkat kabupaten dan kota. Langkah ini menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk mendongkrak target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen, sebagaimana disampaikan dalam kegiatan Kunci Bersama Summit 2026 di Jakarta.
AHY memaparkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pertumbuhan ekonomi di sepuluh kabupaten dan kota saat ini masih bervariasi. Terdapat daerah yang pertumbuhannya masih di bawah 5 persen, berada di kisaran 5 persen, hingga yang telah melebihi rata-rata nasional. Untuk mendorong wilayah yang masih tertinggal, percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas antarkota dan antarwilayah menjadi hal yang sangat mendesak.
"Kita sepakat bahwa salah satu aspek pendongkrak dari pertumbuhan ini adalah infrastruktur konektivitas. Menghubungkan antar-kota, antar-wilayah, agar jika terhubung satu sama lain, biaya transportasi, termasuk transportasi logistik, berkurang. Ini akan meningkatkan kapasitas produksi kita dan dengan demikian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata AHY.
Dalam kesempatan tersebut, AHY menegaskan bahwa pembangunan wilayah tidak boleh lagi berjalan secara egosentris di masing-masing daerah administratif. Pendekatan aglomerasi polisentris dihadirkan agar setiap daerah bisa saling melengkapi dan tumbuh bersama.
"Saya tadi mengedepankan sebuah paradigma pengembangan wilayah aglomerasi polisentris. Aglomerasi artinya kawasan-kawasan, kabupaten-kota, coba kita himpun dan kita upayakan agar walaupun ini berbeda secara administratif, tapi terhubung satu sama lain. Seperti halnya perbandingan dengan negara-negara di Eropa, termasuk di Tiongkok sendiri, ada kawasan-kawasan yang dikembangkan dengan fungsi-fungsi spesifik, berbeda tapi saling mendukung," jelasnya.
Selain sektor konektivitas darat dan pengembangan wilayah, AHY juga menyoroti penguatan sektor transportasi udara melalui rencana pemerintah menjadikan Garuda Indonesia sebagai holding maskapai BUMN. Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kebutuhan penerbangan yang sangat tinggi.
"Terkait dengan sektor transportasi udara, saya rasa dengan mendukung Dirgantara dan maskapai domestik, khususnya flag carrier kita Garuda Indonesia, ini juga membuka ruang yang luas, karena memang kebutuhan penerbangan ini juga masih tinggi sekali. Harapan ini ada supply dan demand, sehingga industri nasional juga terus kuat, dan kita akan bisa menjawab kebutuhan masyarakat kita yang semakin besar. Dengan demikian ini akan bisa mudah-mudahan mengurangi biaya transportasi udara dan mengembangkan ekosistem kedirgantaraan industri kita," tutup AHY.









