TVRINews, Jember
Ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 tidak hanya menjadi panggung fesyen kelas dunia, tetapi juga ruang bagi lahirnya talenta muda dari berbagai latar belakang. Salah satunya ditunjukkan para siswa Sekolah Rakyat Jember yang sukses mencuri perhatian lewat karya busana hasil rancangan mereka sendiri.
Sebanyak 15 siswa Sekolah Rakyat tampil dalam dua sesi, yakni World Kids Carnival (WKC) X Pets Carnival dan Grand Carnival. Mereka memperagakan kostum yang dirancang dan dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai material, termasuk bahan daur ulang.
Keikutsertaan ini menjadi pengalaman perdana bagi para siswa mengikuti karnaval bertaraf internasional yang telah memasuki penyelenggaraan ke-24.
Tenaga Ahli Menteri Sosial, Fajar WH, mengapresiasi keberanian dan kreativitas para siswa yang mampu menghasilkan karya fesyen dari proses perencanaan hingga penyelesaian secara mandiri.
“Kementerian Sosial bangga melihat kreativitas siswa Sekolah Rakyat yang berani menampilkan kostum hasil rancangan mereka sendiri. Ini membuktikan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di tingkat internasional,” ujar Fajar saat menghadiri JFC 2026, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, partisipasi siswa Sekolah Rakyat dalam JFC menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, dan karakter generasi muda.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember, Kartika Sari Dewi, mengatakan proses persiapan dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Para siswa dilibatkan sejak tahap penyusunan konsep, pembuatan pola, hingga penyelesaian kostum.
“Ini merupakan pengalaman pertama kami mengikuti JFC. Seluruh proses menjadi pembelajaran berharga karena siswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan menuangkan kreativitas mereka menjadi sebuah karya,” kata Kartika.
Selama proses persiapan, para siswa mengembangkan empat konsep defile, yakni Conscience, Noise, Roots, dan Rebirth. Mereka menampilkan beragam kostum bertema gladiator, ekspresi emosi, rumah adat Minangkabau, hingga White Guardian yang terinspirasi dari keindahan alam Raja Ampat.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai JFC telah berkembang menjadi salah satu ikon pariwisata nasional yang mampu memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
“Yang kita saksikan hari ini bukan hanya parade kostum yang indah, tetapi juga cerita tentang Indonesia, warisan budaya, dan identitas bangsa yang diterjemahkan menjadi karya kelas dunia,” ujarnya.
Presiden JFC, Budi Setiawan, menambahkan bahwa JFC merupakan ruang bagi generasi muda untuk menemukan jati diri sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kreativitas tidak boleh berhenti menjadi tontonan semata, tetapi harus melahirkan tanggung jawab sosial dan memberi manfaat bagi banyak orang,” katanya.
Selain menjadi atraksi wisata, JFC juga dinilai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah. Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait mengatakan penyelenggaraan JFC mampu menggerakkan sektor perhotelan, UMKM, transportasi, hingga pelaku usaha informal.
“JFC bukan hanya kebanggaan Jember, tetapi juga aset Indonesia yang telah dikenal dunia. Event ini memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat dan menjadi bagian dari upaya menekan angka kemiskinan,” ujar Gus Fawait.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 8.000 warga Jember berhasil keluar dari garis kemiskinan pada tahun lalu. Pemerintah Kabupaten Jember pun optimistis jumlah penduduk miskin akan terus menurun seiring meningkatnya aktivitas ekonomi yang didorong sektor pariwisata.
Mengusung tema HEAL (Humanity, Earth, and Life), JFC 2026 mengajak masyarakat membangun kepedulian terhadap kemanusiaan, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan melalui karya seni dan fesyen.
Perhelatan yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 itu melibatkan lebih dari 1.500 peserta dari dalam dan luar negeri. Ribuan wisatawan turut memadati sejumlah rangkaian acara, mulai dari World Kids Carnival X Pets Carnival, Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI), Artwear Carnival, hingga Grand Carnival sebagai puncak penyelenggaraan.
Kehadiran siswa Sekolah Rakyat di panggung JFC menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis pemberdayaan mampu melahirkan generasi kreatif, percaya diri, dan siap tampil di tingkat internasional. Di sisi lain, JFC terus memperkuat posisinya sebagai event unggulan nasional yang tidak hanya mengangkat citra budaya Indonesia, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.









