TVRINews, Yogyakarta
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan Taman Budaya memiliki peran strategis dalam pemajuan kebudayaan nasional. Menurutnya, Taman Budaya tidak hanya berfungsi sebagai gedung pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang produksi pengetahuan, regenerasi talenta, serta penggerak ekosistem kebudayaan.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat memberikan sambutan dalam Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia XXV Tahun 2026 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia menjadi forum yang mempertemukan pengelola Taman Budaya dari berbagai daerah untuk memperkuat jejaring kelembagaan, bertukar gagasan dan praktik baik, serta mengapresiasi karya seni dan merumuskan strategi pemajuan kebudayaan.
TKTB XXV mengusung tema “Gyaning Rasa Mantraning Nusantara” dengan semangat “Srawung Karya, Gulawenthah Budaya”. Kegiatan yang berlangsung 28 September hingga 1 Oktober 2026 ini memiliki nilai sejarah karena kembali digelar di Yogyakarta, tempat awal pembentukan forum tersebut pada 1997.
Fadli Zon mengatakan semangat srawung mencerminkan pentingnya dialog, perjumpaan, dan pertukaran pengalaman antarpelaku seni dari berbagai daerah. Sementara gulawenthah menekankan pembinaan, pengolahan, pematangan, serta keberlanjutan warisan budaya bagi generasi mendatang.
“Kehadiran Taman Budaya ini menjadi sangat penting di dalam pemajuan kebudayaan, sesuai dengan amanat imperatif konstitusi Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945. Suatu legacy yang hadir hampir di setiap daerah, semacam cultural center yang sangat penting,”kata Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis Kemenbud, Selasa, 29 September 2026.
Fadli Zon menambahkan, Taman Budaya berada pada posisi strategis dalam kebudayaan nasional, antara lain sebagai daya ikat kohesi bangsa (binding power), sumber jati diri (source of identity), penggerak pertumbuhan (engine of growth), serta sarana diplomasi soft power di tingkat global.
Dalam TKTB XXV juga digelar Suluh Sumurup Art Festival yang menampilkan karya perupa penyandang disabilitas. Pameran tersebut menghadirkan 186 karya dari 132 seniman penyandang disabilitas dengan beragam medium, mulai dari lukisan, kain batik, instalasi hingga karya multimedia.
Fadli Zon menilai karya para seniman disabilitas menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang dalam mengekspresikan pikiran, rasa, dan budaya melalui karya seni.
“Karya-karya yang dipamerkan ini luar biasa karena menunjukkan bahwa siapapun, meskipun dalam keterbatasan, bisa mengekspresikan apa yang menjadi pikiran, rasa, budaya, serta memotret keadaan,”jelasnya.
Selain pameran seni, TKTB XXV menghadirkan Pojok Kreatif Taman Budaya sebagai wadah pemasaran digital dan branding bagi produk seniman dan perajin. Konsep Circular Cultural Economy yang diterapkan diharapkan membuat nilai ekonomi dari karya seni kembali menguatkan seniman, komunitas, regenerasi talenta, dan ekosistem budaya di daerah asal karya.
Menutup sambutannya, Fadli Zon berharap Temu Karya Taman Budaya XXV dapat memperluas kolaborasi antardaerah melalui pertukaran karya, program residensi, kurasi bersama, serta pertukaran praktik baik.
“Taman Budaya harus menjadi ruang tempat karya bertemu dengan publik untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional. Wadah untuk berjejaring antara seniman, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem manajemen talenta,”tandasnya.
Kementerian Kebudayaan juga mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, program, serta tata kelola Taman Budaya. Sinergi tersebut diharapkan membuka ruang penciptaan dan jejaring yang lebih luas bagi pelaku seni budaya hingga ke tingkat global.










