TVRINews, Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional memetakan berbagai kendala kompleks dalam menanggulangi tuberkulosis dari sisi klinis hingga maraknya kasus kekebalan obat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat komitmennya dalam mengedukasi publik sekaligus memetakan berbagai tantangan krusial dalam penanganan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Sebagai penyakit infeksi menular yang masih menjadi ancaman serius, penanggulangan TBC kini dihadapkan pada persoalan yang semakin kompleks, mulai dari faktor epidemiologi, tantangan komorbiditas (penyakit penyerta), hingga maraknya kasus resistensi terhadap obat anti-tuberkulosis (OAT).
Isu strategis tersebut dikupas secara mendalam dalam webinar bertajuk “Tuberkulosis: Tantangan yang Terus Berubah” yang diselenggarakan oleh Kelompok Riset Mikrobiologi Klinik dan Penyakit Infeksi, Pusat Riset Biomedis, Organisasi Riset Kesehatan BRIN.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, dalam sambutannya menegaskan bahwa TBC masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat baik di level global maupun nasional.
“Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya berkaitan dengan aspek diagnosis dan pengobatan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor epidemiologis, sosial, klinis, dan biologis yang saling berinteraksi secara kompleks,” ujar Indi dalam keterangan tertulis, dilansir dari laman resmi BRIN, Senin, 26 Oktober 2026.
Ia juga menyoroti ancaman resistensi obat (OAT) sebagai salah satu kendala paling kritis dalam tata kelola klinis saat ini. Kondisi tersebut tidak hanya memperpanjang durasi terapi pasien, tetapi juga menuntut tingkat akurasi diagnostik dan pemantauan klinis yang jauh lebih presisi.
Beban Epidemiologi TBC di Indonesia
Dalam sesi pemaparan materi, Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Nastiti Intan Permata Sari, memaparkan data mengkhawatirkan di mana *Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC terbesar.
Secara global, hampir seperempat populasi dunia dipercayai telah terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Dari total penderita TBC yang tercatat 89% merupakan kelompok usia dewasa (terdiri dari 56% laki-laki dan 32% perempuan) dan sisanya diderita oleh kelompok anak-anak.
Nastiti menjelaskan bahwa penularan utama terjadi melalui percikan pernapasan (droplet) udara dari penderita TBC paru aktif. Meskipun organ sasaran utamanya adalah paru-paru, infeksi ini juga berpotensi menyerang organ di luar paru (ekstra paru).
Guna menekan rantai penularan, ia menekankan pentingnya penerapan langkah pencegahan yang komprehensif, meliputi:
1. Diagnosis dini dan pengobatan secepat mungkin untuk memperpendek masa infeksius pasien.
2. Penerapan manajemen lingkungan fasilitas kesehatan yang baik (penggunaan ventilasi khusus dan iradiasi germisidal ultraviolet).
3. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pernapasan bagi tenaga kesehatan.
4. Kewajiban mengenakan masker bedah bagi pasien yang menunjukkan simptom.
Peran Kritis Komorbiditas dan Multimorbiditas
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Khariri, memaparkan betapa signifikannya pengaruh komorbiditas (penyakit penyerta) dan multimorbiditas (keberadaan beberapa kondisi kronis sekaligus pada satu individu) terhadap tingkat keparahan TBC.
Beberapa jenis komorbiditas yang kerap ditemukan pada pasien TBC meliputi Diabetes melitus, Infeksi HIV, Malnutrisi, Penyakit ginjal kronis (PGK), Keganasan (kanker) serta kondisi imunosupresi lainnya
Khariri menjelaskan bahwa kehadiran penyakit penyerta dapat memicu reaktivasi infeksi TBC laten menjadi penyakit aktif, memunculkan gejala klinis yang tidak khas (atipikal) sehingga memperlambat diagnosis, menurunkan respons terapi, memicu efek samping OAT yang lebih berat, meningkatkan risiko kekambuhan (relaps), hingga memperbesar angka kematian (mortalitas).
Untuk menjawab tantangan tersebut, Khariri mendorong optimalisasi pendekatan kesehatan masyarakat berbasis integrasi layanan terpadu menuju visi Indonesia Bebas Tuberkulosis, yang mencakup penguatan kolaborasi lintas program, edukasi masif kepada masyarakat, optimalisasi sistem rujukan, serta penyediaan paket layanan kesehatan yang komprehensif di fasilitas kesehatan primer.
“Kami berharap ke depan diperlukan skrining dan pencegahan yang tepat serta integrasi dari berbagai perspektif layanan kesehatan mengingat kompleksnya mekanisme biologis yang ada pada pasien dengan komorbiditas TBC,” pungkas Khariri.










