TVRINews, Jakarta
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner terus berinovasi mengikuti perubahan selera konsumen, termasuk melalui pengembangan minuman berbahan matcha dan ube atau ubi ungu.
Tren kedua bahan tersebut membuka peluang diversifikasi produk, sekaligus menuntut pelaku usaha memiliki karakter rasa dan strategi bisnis yang mampu bersaing di pasar.
Matcha yang dikenal dengan cita rasa teh hijau kini hadir dalam beragam produk, mulai dari matcha latte hingga hidangan penutup. Sementara itu, ube mulai menarik perhatian sebagai alternatif rasa dengan warna khas. Perkembangan ini mendorong pelaku usaha minuman menghadirkan pilihan produk baru untuk menjangkau konsumen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia pada 2024. Besarnya jumlah usaha tersebut menunjukkan luasnya ekosistem kuliner nasional, sekaligus menggambarkan ketatnya persaingan bagi pelaku UMKM untuk mempertahankan pelanggan.
Di tengah persaingan tersebut, inovasi produk menjadi salah satu cara untuk membangun pembeda. Namun, mengikuti tren saja belum cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Konsistensi rasa, kualitas bahan, penetapan harga, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen turut menentukan daya saing bisnis kuliner.
Salah satu pelaku usaha yang mengembangkan minuman berbasis matcha dan ube adalah Matchubee.
CEO Matchubee Astari Cita Marini mengatakan tren kedua bahan tersebut dapat menjadi peluang untuk menghadirkan variasi produk yang sesuai dengan perkembangan selera konsumen.
“Kami melihat tren matcha dan ube sebagai peluang untuk menghadirkan pilihan minuman yang memiliki karakter berbeda. Bagi Matchubee, inovasi produk harus diimbangi dengan konsistensi rasa dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen,” ujar Astari, Senin, 26 Oktober 2026.
Selain menyasar konsumen minuman kekinian, Matchubee juga membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang tertarik memasuki bisnis minuman.
Skema ini menjadi salah satu pilihan untuk memulai usaha, tetapi calon mitra tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan modal, pemilihan lokasi, potensi pasar, dan biaya operasional.
Astari mengatakan, minat terhadap tren minuman perlu diimbangi dengan kesiapan dalam mengelola usaha. Perencanaan bisnis dan strategi pemasaran menjadi bagian penting untuk menghadapi persaingan yang semakin beragam.
“Melalui konsep kemitraan, kami ingin membuka kesempatan bagi masyarakat yang tertarik mengembangkan bisnis minuman kekinian. Kami berharap calon mitra tidak hanya melihat tren pasar, tetapi juga mempersiapkan strategi dan pengelolaan usaha agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan,” katanya.
Tren matcha dan ube menunjukkan bagaimana perubahan selera konsumen dapat membuka peluang inovasi bagi UMKM kuliner.
Namun, keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh popularitas produk, melainkan juga oleh kualitas, konsistensi, serta kemampuan pelaku usaha membaca kebutuhan pasar.










