TVRINews, Jakarta
Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan 80.026 personel untuk membantu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan, pengerahan personel tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
"Kami laporkan bahwa sampai saat ini TNI sudah menyiagakan dan mengerahkan sejumlah 80.026 personil untuk menanggulangi maupun mengatasi dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," kata Muhammad Nas dalam konferensi pers, Selasa, 8 September 2026.
Selain personel, TNI juga mengerahkan berbagai alat dan perlengkapan untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla, mulai dari perlengkapan perorangan, alat pemadam api ringan, alat pelindung diri hingga peralatan berukuran besar.
Atas instruksi Presiden Prabowo Subianto, TNI juga memperkuat personel di wilayah yang terdampak karhutla. Sebanyak 1.260 personel Batalyon Zeni Teritorial Pembangunan dikerahkan dari sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Jawa Timur untuk membantu penanganan, khususnya di Kalimantan Barat.
Kemudian, TNI juga menyiagakan Tim Alpha untuk menjangkau lokasi-lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat. Personel Tim Alpha dapat diterjunkan menggunakan helikopter maupun dengan metode fast-rope untuk mencapai titik-titik rawan.
Tidak hanya melakukan pemadaman, TNI turut menjalankan langkah pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat. Sebanyak 1.482 personel ditugaskan sebagai penyuluh di lapangan. Mereka terdiri dari perwira tinggi hingga siswa Sekolah Staf dan Komando TNI serta Sekolah Staf dan Komando dari tiga matra TNI.
"Yang bertujuan salah satunya adalah menyampaikan penyuluhan kepada masyarakat bahaya dari kebakaran hutan dan lahan serta dampak yang lebih besar bisa kita rasakan," terangnya.
Para penyuluh tersebut akan menjalankan tugas selama satu bulan. Upaya ini diharapkan dapat mencegah praktik pembakaran hutan dan lahan, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.
Untuk memperkuat operasi dari udara, TNI AU mengerahkan 13 unit pesawat, baik jenis fixed-wing maupun rotary-wing. Sebanyak delapan helikopter disiapkan untuk mendukung operasi water bombing, modifikasi cuaca, hingga patroli udara.
Sementara itu, salah satu kendala yang dihadapi petugas di lapangan adalah keterbatasan sumber air. Untuk mengatasinya, jajaran TNI di wilayah melakukan pencarian titik-titik sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk pemadaman.
"Sampai saat ini kami sampaikan sudah ditemukan atau sudah didapatkan 316 titik sumber air yang didapatkan dari sumur bor yang tersebar mulai dari wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Provinsi Lampung maupun daerah provinsi Riau, sehingga ini sangat-sangat mendukung untuk operasional pemadaman kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.
Muhammad Nas memastikan prajurit TNI akan terus membantu penanganan karhutla selama diperlukan. Para personel disebut bekerja tanpa mengenal waktu untuk membantu masyarakat dan mempercepat penanganan bencana.
TNI berharap penanganan karhutla dan berbagai bencana lainnya dapat segera dituntaskan sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.










