TVRINews, Pacitan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempabumi dan tsunami melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) 2026. Kegiatan bertema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045” itu digelar di Kantor Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Kegiatan dibuka Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani yang didampingi Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama, Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab, Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Cahyo Nugroho, serta para Kepala UPT BMKG se-Jawa Timur. Turut hadir Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi, Wakil Bupati Pacitan Gagarin, Forkopimda, BPBD, relawan kebencanaan, tokoh masyarakat, dan peserta SLG.
Dalam sambutannya, Faisal menegaskan Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi ancaman gempabumi dan tsunami. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko bencana.
“SLG adalah upaya BMKG untuk memastikan BPBD dan masyarakat di wilayah rawan gempa dan tsunami agar peduli dan siap merespons tanda-tanda bahaya alam, serta peringatan dini resmi dari BMKG. Hal ini sejalan dengan inisiatif global Early Warning, Early Action dan Early Warnings for All,”kata Faisal dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu, 19 Juli 2026.
Ia menjelaskan, SLG menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk memahami potensi gempabumi dan tsunami di daerahnya sekaligus melatih kemampuan menyelamatkan diri saat bencana terjadi.
“Gempabumi dan tsunami belum dapat diprediksi kejadiannya, tetapi kesiapsiagaan bisa kita bangun dan latih sejak dini, sembari terus berdoa agar kita terhindar dari bencana. Harapan saya nanti para peserta agar aktif bertanya dan berdiskusi, memanfaatkan kesempatan ini untuk merawat mitigasi gempabumi dan tsunami. Wajib bagi seluruh peserta untuk meneruskan pengetahuan penyelamatan yang telah didapat kepada keluarga dan teman-teman,”jelasnya.
Pada kesempatan itu, Faisal juga mengapresiasi berbagai upaya mitigasi yang telah dilakukan Pemerintah Desa Sidomulyo bersama masyarakat. Desa tersebut berhasil meraih predikat Desa Tangguh Bencana Tsunami Tingkat Utama dari BNPB pada 2024.
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan komitmen kuat masyarakat dalam membangun budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
“Yang terpenting adalah memastikan keberlanjutannya, agar upaya-upaya kesiapsiagaan yang telah terbangun ini dapat terus dijaga. BMKG menilai Desa Sidomulyo telah memiliki kapasitas yang kuat untuk dapat segera diusulkan sebagai Tsunami Ready Community yang diakui UNESCO. Saat ini Indonesia memiliki 29 Tsunami Ready Community, dan harapannya Desa Sidomulyo dapat menggenapi angkanya menjadi 30 desa,”imbuhnya.
Faisal turut memberikan apresiasi kepada Stasiun Geofisika Nganjuk dan Pusat Gempa Regional (PGR) Yogyakarta yang dinilai konsisten membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan literasi kebencanaan.
“Hal ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah yang terus menjadi prioritas BMKG dalam memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami,”tuturnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Nganjuk Iwan Setiawan mengatakan, penyelenggaraan SLG bertujuan memastikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dapat dipahami serta ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan sesuai tugas masing-masing.
Selain itu, kegiatan tersebut juga memperkuat koordinasi antara BMKG dan pemerintah daerah dalam penyebarluasan informasi kebencanaan, sekaligus mengoptimalkan peran BPBD sebagai simpul utama penyampaian informasi kepada masyarakat.
“Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman mengenai informasi gempabumi oleh BPBD dan para pihak terkait di daerah rawan bencana, serta mampu menentukan tindak lanjut setelah mendapatkan informasi tersebut,”ungkap Iwan.
Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai potensi sumber gempabumi dan tsunami, sistem informasi gempabumi BMKG, sistem peringatan dini tsunami, serta langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui paparan, diskusi, tanya jawab, dan simulasi tabletop exercise. Kegiatan diikuti 53 peserta dari unsur masyarakat, TNI, Polri, perangkat daerah, Forkopimda, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), tenaga kesehatan, tenaga pendidik, hingga media.
Anggota Komisi V DPR RI Ali Mufthi turut mengapresiasi penyelenggaraan SLG di Pacitan. Menurutnya, letak geografis Pacitan yang berada di kawasan rawan gempa membuat edukasi dan pelatihan kebencanaan menjadi kebutuhan yang sangat penting.
“Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi merupakan komitmen bersama untuk memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan respons yang tepat saat bencana datang,”ujar Ali.
Melalui penyelenggaraan SLG 2026, BMKG berharap kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam memahami risiko bencana, merespons peringatan dini secara tepat, serta membangun budaya kesiapsiagaan terus meningkat sehingga tercipta masyarakat yang tangguh menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami menuju Indonesia Emas 2045.










