TVRINews, Jakarta
Komoditas bersahaja ini menyimpan nutrisi tinggi yang mampu mengungguli kandungan protein pada beras maupun gandum.
Jamur pangan selama ini dikenal luas sebagai bahan makanan yang lezat dan mudah diolah di tengah masyarakat. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, jamur ternyata menyimpan potensi gizi luar biasa serta kandungan senyawa aktif yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional maupun bahan baku obat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawa, dalam acara siniar (podcast) Kelas Periset BRIN yang diselenggarakan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong.
Iwan memaparkan bahwa dari sekitar 10.000 jenis jamur yang ada di muka bumi, hanya sebagian kecil atau kurang dari 10 persen spesies saja yang dapat dikonsumsi (edible).
“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujar Iwan dalam keterangan tertulis, dilansir dari laman BRIN, Minggu, 27 September 2026.
Secara biologis, jamur pangan makroskopis tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Untuk bertahan hidup, jamur menghasilkan enzim khusus yang menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi zat gizi sederhana yang siap diserap tubuhnya.
Profil Nutrisi Unggul: Kandungan Protein Kalahkan Beras dan Gandum
Dari sisi kesehatan dan gizi, jamur menawarkan profil nutrisi yang sangat tinggi. Berdasarkan hasil riset mendalam, rata-rata jamur pangan mengandung protein berkisar 19–35%—angka yang jauh melampaui kandungan protein pada beras (sekitar 7,38%) maupun gandum (13,2%).
Selain itu, jamur juga dilengkapi dengan sembilan jenis asam amino esensial, serta sekitar 72% kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh yang sehat bagi tubuh.
Sejumlah keunggulan nutrisi lain yang terkandung dalam jamur meliputi Vitamin (Kaya akan vitamin B1, B2, niasin, dan biotin), Mineral (Mengandung kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, hingga tembaga), dan Serat Tinggi (Kandungan serat yang mencapai 7,4–24,6% menjadikan jamur sebagai sumber serat pangan yang sangat baik dengan kalori yang relatif rendah).
Salah satu jenis jamur kayu yang paling populer dan banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram (Pleurotus sp.). Jamur ini diketahui mengandung protein 19–30%, karbohidrat 50–60%, aneka vitamin B dan C, serta berbagai mineral esensial.
Menariknya lagi, jamur tiram juga mengandung senyawa pleuran, yakni molekul gula sederhana yang memiliki aktivitas antioksidan kuat. Temuan inilah yang menempatkan jamur tiram sebagai salah satu komoditas pangan fungsional unggulan.
“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.
Potensi Lokal dan Inovasi Penanganan Gizi Buruk
Di Indonesia, selain jamur tiram dan jamur kuping yang dibudidayakan secara komersial, masyarakat juga telah lama mengenal berbagai jenis jamur liar berkhasiat dari alam, seperti jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), hingga jamur pelawan (Heimioporus sp.).
Fleksibilitas jamur sebagai bahan pangan bernutrisi tinggi juga telah dibuktikan dalam aksi nyata di tengah masyarakat. Iwan mencontohkan inovasi yang dilakukan oleh Sunarti, seorang bidan desa penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan, yang sukses mengolah jamur tiram menjadi aneka menu makanan bergizi untuk membantu penanganan kasus gizi buruk pada balita.
Menyongsong Masa Depan Lewat Mushroom Science dan Bioprospeksi
Melihat kekayaan keanekaragaman hayati nusantara, Iwan menilai pemanfaatan jamur seharusnya tidak berhenti sekadar sebagai komoditas meja makan. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan riset jamur melalui pendekatan bioprospeksi yakni upaya menggali potensi sumber daya hayati guna menghasilkan produk, teknologi, dan manfaat baru yang bernilai ekonomis tinggi.
Untuk mencapai hal tersebut, penguasaan ilmu pengetahuan tentang jamur (mushroom science) di Indonesia mutlak untuk terus diperkuat. Sinergi dan kolaborasi riset antara lembaga ilmiah, industri budidaya jamur, serta sektor farmasi dinilai menjadi kunci utama dalam mendorong hilirisasi produk berbasis jamur.
“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkas Iwan.










