TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong pengembangan warisan keraton Nusantara menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. Upaya ini dinilai dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat pelestarian budaya Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Riefky saat membuka Sarasehan Nasional Keraton Nusantara dan Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) 2026 bertema "Mewujudkan Jakarta sebagai Etalase Keindahan Budaya Nusantara, Menyongsong 5 Abad Jakarta".
Riefky mengatakan, warisan keraton tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui industri kreatif. Cerita sejarah, pusaka, dan tradisi yang diwariskan dapat diolah menjadi beragam produk, mulai dari film hingga cendera mata.
"Warisan keraton tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Cerita, pusaka, dan tradisi yang diwariskan dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari film hingga cendera mata," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menurutnya, pengembangan potensi tersebut membutuhkan sinergi lintas kementerian agar pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi.
Kementerian Kebudayaan berperan dalam pelestarian dan revitalisasi keraton, sedangkan Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan destinasi berbasis sejarah. Sementara itu, Kementerian Ekonomi Kreatif berfokus pada penciptaan karya dan produk komersial, dengan dukungan Kementerian Koperasi dalam pengelolaan usaha hingga pemasaran.
Senada, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menekankan pentingnya revitalisasi keraton, istana kerajaan, dan museum sebagai pusat pemajuan kebudayaan. Menurutnya, pembenahan bangunan bersejarah perlu disertai penataan pameran dan pengelolaan koleksi agar masyarakat semakin mudah mengakses pengetahuan sejarah.
Fadli juga melihat peluang pengembangan produk kreatif dari lingkungan keraton, termasuk cendera mata khas dan kuliner berbasis resep tradisional. Karena itu, kerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif diperlukan untuk menghasilkan produk yang memiliki karakter dan nilai ekonomi.
Di sisi lain, Ketua Umum FSKN A.A. Mapparessa Karaeng Turikale VIII Maros mengusulkan penyusunan ensiklopedia keraton dan kerajaan Nusantara. Ensiklopedia tersebut diharapkan memuat asal-usul kerajaan, silsilah, tradisi, serta aset budaya berwujud dan tidak berwujud.
Pendokumentasian yang terstruktur dinilai penting untuk menjadi rujukan pemerintah dalam menyusun kebijakan, menentukan prioritas pelestarian, dan memberikan dukungan kepada keraton di berbagai daerah.
Sebagai tindak lanjut, Riefky meminta FSKN menyusun rencana kerja yang dapat dibahas bersama kementerian terkait dan pemerintah daerah. Rencana tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan produk kreatif berbasis sejarah dan tradisi keraton sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Sarasehan ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Agung Raja-Sultan Nusantara FSKN 2026 yang berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 secara hibrida di Jakarta. Forum tersebut turut membahas perlindungan kelembagaan keraton, revitalisasi aset budaya, serta penyelenggaraan festival yang melibatkan kerajaan dan masyarakat adat.










