
IG: prabowo
Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Presiden Prabowo Subianto mencatatkan sejarah baru dengan melakukan wawancara terbuka selama empat jam bersama tujuh jurnalis senior yang juga menjabat sebagai pemimpin redaksi dari berbagai media nasional. Dialog intensif itu dinilai menjadi bentuk nyata keterbukaan informasi publik dan penguasaan penuh presiden terhadap berbagai isu strategis nasional.
Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menyebut langkah Presiden Prabowo ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kepresidenan di Indonesia.
"Wawancara berdurasi empat jam ini membahas sejumlah topik yang banyak menjadi perhatian publik, dan ini baru terjadi pertama kali dalam sejarah perjalanan Presiden Republik Indonesia,” ujar Iwan kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 8 April 2025.
Ia menilai keberanian Prabowo menghadapi pertanyaan tajam secara langsung dan tanpa sensor menunjukkan komitmen terhadap transparansi serta penguasaan atas berbagai persoalan bangsa.
"Presiden menjawab semua pertanyaan sulit yang diberikan dengan jelas dan tepat. Penguasaan beliau atas berbagai persoalan bangsa luar biasa,” lanjutnya.
Iwan juga mengapresiasi pernyataan Prabowo yang menilai kinerja pemerintahannya selama 150 hari berada di angka 6 dari 10. Menurutnya, penilaian ini mencerminkan sikap objektif dan kesadaran akan masih banyak hal yang perlu diperbaiki.
“Ini artinya Presiden punya kesadaran masih banyak yang harus diperbaiki dari Pemerintahan yang ia pimpin – namun juga banyak keberhasilan yang sudah dicapai,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai wawancara ini sekaligus mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa Presiden Prabowo tidak anti kritik.
“Kalau kita perhatikan, pertanyaan bahkan kritikan para jurnalis tersebut sangat tajam menusuk dan pedas,” ucap Iwan.
Menurut Iwan, wawancara tersebut menunjukkan kapasitas intelektual dan emosional Prabowo sebagai kepala negara yang siap berdialog terbuka.
“Wawancara ini menunjukkan bagaimana kualitas dan kapasitas Presiden Republik Indonesia yang bisa dikatakan secara intelektual dan emosional sangat mumpuni,” katanya.
Ia menilai setiap kebijakan dan program pemerintah saat ini lahir dari kajian yang matang dan visi yang terarah. Namun, ia juga menyoroti perlunya perbaikan pada komunikasi publik dari tim Presiden.
“Perangkat komunikasi presiden belum berhasil mengkomunikasikan semua itu kepada publik, sehingga persepsi dan kesan publik terhadap presiden dan programnya tidak holistik,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
