TVRINews, Jakarta
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Australia.
Hal itu disampaikan dalam pertemuannya dengan Assistant Minister of Foreign Affairs and Trade of Australia, Matt Thistlethwaite, di sela-sela Trade and Investment Ministerial Meeting (TIMM) G20 di Gqeberha, Afrika Selatan.
“Australia merupakan salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Kami ingin memastikan kerja sama ini semakin seimbang dan saling menguntungkan,” ujar Budi Santoso dilansir dari laman resmi Kemendag, Minggu, 12 Oktober 2025.
Mendag Busan menyambut baik pelaksanaan General Review Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang disepakati pada Pertemuan Komite Bersama ke-3 pada Juni 2025. Ia juga mengapresiasi inisiatif Australia dalam penyusunan Terms of Reference (ToR) General Review IA-CEPA.
Baca Juga: Menlu RI Sugiono Lakukan Kunjungan Resmi ke Korea Utara
“Indonesia akan segera menyampaikan masukan agar proses ini menghasilkan kesepakatan yang lebih progresif dan inklusif bagi kedua pihak,” kata Budi.
Lebih lanjut, Mendag menekankan pentingnya keberlanjutan program IA-CEPA Katalis 2.0, program kerja sama pendanaan dari Australia yang kini memasuki fase akhir tahap pertama.
Ia berharap program tersebut dapat selaras dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia, seperti pertumbuhan berkelanjutan, transisi energi, ekonomi digital, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja.
“Kami ingin memastikan manfaat nyata dari kerja sama ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat kedua negara,” tegasnya.
Selain memperkuat kerja sama perdagangan, Budi juga mendorong peningkatan akses pasar bagi produk unggulan Indonesia seperti besi baja, otomotif, dan makanan olahan di Australia.
"Produk-produk tersebut, berpotensi memperkuat rantai pasok regional dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di kawasan," katanya.
Di sisi lain, Indonesia juga menegaskan komitmennya terhadap sistem perdagangan multilateral berbasis aturan.
Mendag menyampaikan dukungan Indonesia untuk memperkuat ASEAN–Australia–New Zealand Free Trade Area (AANZFTA), serta mengharapkan dukungan Australia terhadap proses aksesi Indonesia ke dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Menanggapi hal tersebut, pihak Australia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Indonesia bergabung dalam CPTPP.
Menurut Australia, meskipun proses aksesi memerlukan pemenuhan standar tinggi di berbagai aspek, hal ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat reformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing regional.
Budi juga menyoroti dukungan Indonesia terhadap penyelesaian Joint Statement Initiative (JSI) on E-Commerce di WTO serta partisipasi Indonesia dalam Multi-Party Interim Appeal Arbitration Arrangement (MPIA). Kedua langkah ini dinilai akan memperkuat kesiapan Indonesia dalam memenuhi standar tinggi yang diterapkan di CPTPP.
“Indonesia adalah pendukung kuat sistem perdagangan multilateral. Keberhasilan Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-14 tahun depan akan sangat bergantung pada kemampuan kita menjembatani perbedaan dan memastikan perdagangan yang terbuka, adil, dan inklusif,” ujar Budi.
Sepanjang periode Januari–Agustus 2025, total perdagangan Indonesia dan Australia tercatat mencapai USD 8,60 miliar, dengan ekspor Indonesia senilai USD 2,52 miliar dan impor sebesar USD 6,07 miliar.
Sementara itu, pada 2024, total perdagangan kedua negara mencapai USD 15,41 miliar, dengan ekspor Indonesia senilai USD 4,97 miliar dan impor sebesar USD 10,45 miliar.
Produk ekspor utama Indonesia ke Australia meliputi besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, pupuk, serta alas kaki. Sementara itu, impor utama Indonesia dari Australia terdiri atas bahan bakar mineral, perhiasan dan permata, bijih logam, gandum, serta hewan hidup.










