TVRINews, Jakarta
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, sekaligus Ketua Tim Reformasi Polri Jimly Asshiddiqie mengenang almarhum Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu sebagai sosok yang profesional dan selalu mengedepankan kehati-hatian dalam setiap keputusan yang diambil. Hal tersebut, diungkapkan usai menghadiri pemakaman Ryamizard di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Senin, 1 Juni 2026.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika kedekatannya dengan Ryamizard telah terjalin sejak lama. Selama mengenal almarhum, ia melihat sosok pemimpin yang tegas namun tidak pernah bertindak sembarangan dalam menjalankan tugas negara.
“Saya bergaul cukup lama dengan almarhum. Saya mau jadi saksi, beliau orang baik, profesional, enggak macam-macam,” ujar Jimly.
Tak hanya itu, ia menceritakan kedekatannya semakin usai keduanya pernah bekerja bersama selama lima tahun di Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Saat itu Ryamizard menjabat sebagai ketua, sedangkan Jimly dipercaya sebagai wakil ketua.
Dari pengalaman tersebut, Jimly menilai Ryamizard selalu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan penting.
“Dia sebagai Menhan merangkap ketua, saya wakil ketua. Lima tahun kami kerja bareng. Dalam mengambil keputusan dia sangat profesional, sangat hati-hati. Semua aspek dipertimbangkan,” katanya.
Jimly juga mengingat masa ketika dirinya sering berdiskusi dengan Ryamizard pada era reformasi. Saat itu, Ryamizard menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan aktif mengikuti perkembangan perubahan sistem ketatanegaraan di Indonesia.
Menurutnya, Ryamizard merupakan figur militer yang mampu memahami semangat reformasi tanpa meninggalkan profesionalisme sebagai prajurit.
“Beliau paham aspirasi reformasi. Paham perubahan yang dibutuhkan, tapi tetap profesional sebagai tentara,” jelasnya.
Selain dikenal sebagai tokoh militer, Ryamizard juga dinilai memiliki ketokohan yang kuat di tengah masyarakat. Jimly menyebut latar belakang keluarganya turut membentuk citra dan penghormatan publik terhadap almarhum, terutama di Sumatera Selatan.
“Orang tuanya itu legenda hidup di Sumsel. Jadi ketokohan keluarga juga mempengaruhi bagaimana masyarakat melihat Pak Ryamizard,” ucapnya.
Bagi Jimly, wafatnya Ryamizard merupakan kehilangan bagi bangsa Indonesia. Ia berharap nilai-nilai kepemimpinan, integritas, dan pengabdian yang ditunjukkan almarhum dapat diwarisi oleh generasi penerus.
“Mudah-mudahan tokoh seperti Pak Ryamizard makin banyak dicontoh generasi berikutnya,” tandas dia.










