TVRINews – Banten
Operasi SAR Gabungan Hadapi Medan Ekstrem dan Kabut Tebal di Selat Sunda
Upaya pencarian delapan korban yang hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menghadapi tantangan berat akibat cuaca buruk dan aktivitas vulkanik. Hingga Kamis 10 September 2026, operasi penyelamatan yang melibatkan unsur gabungan belum membuahkan hasil signifikan di tengah ancaman kabut asap tebal dan radius bahaya erupsi.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa pemantauan visual menggunakan teropong serta penyisiran udara lewat wahana nirawak (drone) dari Kapal Negara Search and Rescue (KN SAR) Tetuka belum dapat menembus pekatnya kabut.
"Hasil di lapangan menunjukkan pandangan tertutup karena kabut asap sangat tebal," ujar Al Amrad dalam keterangan Pers nya di Posko SAR Carita.
Selain kendala cuaca, tim penyelamat juga dihadapkan pada regulasi keselamatan yang ketat. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pulau Sertung masih berada dalam radius zona merah 3 kilometer dari puncak gunung. Kendati demikian, koordinasi lintas lembaga terus dilakukan guna mencari celah intervensi yang aman.
"Untuk Pulau Sertung, wilayah tersebut masuk dalam radius tiga kilometer yang dinyatakan rawan. Namun, kami terus mengkaji data dari BMKG dan BNPB untuk menentukan langkah taktis agar bisa masuk guna memastikan situasi," tambahnya.
Insiden ini bermula ketika sebuah speedboat yang membawa delapan orang terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal dilaporkan hilang kontak saat hendak meliput aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Di tengah proses pencarian, aparat menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban. Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Banten, Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani, menyebutkan bahwa KAL Anyer menemukan sebuah jaket pelampung (life jacket) beserta botol putih di koordinat 06 derajat 04 menit 40 detik Lintang Selatan dan 105 derajat 45 menit 17 detik Bujur Timur.
Kendati demikian, pihak berwenang memilih langkah kehati-hatian tinggi sebelum menyimpulkan status barang temuan tersebut guna menghindari disinformasi di ruang publik.
"Kepastiannya akan kita kumpulkan di posko untuk identifikasi terlebih dahulu sebelum merilis apakah itu benar milik korban. Kami tidak ingin membuat pernyataan yang memicu spekulasi liar," tegas Wawan.
Tim Lanal Banten dijadwalkan melakukan pencocokan karakteristik barang bersama pihak penyewa kapal.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, yang meninjau langsung Posko SAR Gabungan di Pantai Carita, menegaskan bahwa komitmen penyelamatan tetap berpedoman pada standar internasional IAMSAR Guidelines selama tujuh hari ke depan.
"Operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang ketat. Pola pergerakan sangat bergantung pada pemutakhiran data ilmiah dari PVMBG dan BMKG demi mengutamakan keselamatan personel di lapangan," pungkas Syafii dikutip dari @sar_Nasional
Evaluasi menyeluruh rencananya akan dilaksanakan pada hari ketujuh dengan melibatkan unsur medis, meteorologi, dan vulkanologi guna menentukan arah kebijakan lanjutan dari operasi kemanusiaan ini.










