
Putra Putri Presiden Ke-2 H.M Soeharto, mewakili menerima Penghargaan Pahlawan Nasional.
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Pemerintah Berikan Penghargaan Presiden Ke-2 RI H.M Soeharto Sebagai Pahlawan Nasional; Kenangan Manis Kebijakan Agraris Orde Baru Jadi Inspirasi India
Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2025.
Pengumuman ini diberikan juga bersamaan dengan sembilan pahlawan nasional baru lainnya, penghargaan ini menjadi sorotan publik kembali tertuju pada jejak kebijakan Soeharto yang dikenal sukses di sektor pertanian, sebuah keberhasilan yang kini tak bisa dilupakan .
Program ketahanan pangan Dimulai Di era Pak Harto

(Pak harto Pada saat Panen Raya ( Foro : Perpustakaan Nasional)
Presiden kedua Republik Indonesia (RI) Soeharto bukan berasal dari keluarga yang berada. Ayahnya, Kertosudiro adalah seorang pegawai irigasi, sedangkan ibunya, Soekirah memilih meninggalkan keluarganya sejak Soeharto kecil.
Karena itu ayahnya kemudian membawa Soeharto hijrah dari Desa Kemusuk, Godean, Yogyakarta ke Wonogiri. Menurut catatan literatur, Soeharto dititipkan kepada adik sang ayah, yang menikah dengan seorang petugas pertanian setempat di masa Hindia Belanda bernama Prawirowihardjo.
Selama di Wonogiri,, Soeharto dibesarkan dalam lingkungan agraris. Dia pun sering mengikuti pamannya untuk mengunjungi sawah dan peternakan. Di situlah, awal mula ilmu tentang pertanian didapatkan oleh Soeharto.
Dengan Ilmunya itu tersebut Indonesia pun ditangan presiden ke-2, yang secara historis dikenal sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah.bahkan India pun mengadopsi strategi pertanian era Soeharto.
Program ketahanan pangan era Orde Baru (Orba), yang dimulai Soeharto pada 1966, memprioritaskan sektor agraria. Pembangunan infrastruktur besar-besaran, termasuk waduk, bendungan, dan irigasi, dilakukan.
Strategi yang sukses ini terwujud melalui program seperti Panca Usaha Tani, Bimas, dan dukungan kelembagaan kuat seperti koperasi petani, Bulog (untuk menampung hasil panen), hingga institusi penelitian yang melahirkan inovasi seperti Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW). Penyediaan pupuk juga diamankan dengan pembangunan pabrik-pabrik pupuk negara.
Puncak Swasembada dan Pengakuan Dunia

(Pak Harto saat Mengecek Persedian Beras di salah satu gudang Bulog (Foto : Perpustakaan Nasional))
Puncak dari keberhasilan ini terjadi pada 1984. Indonesia, yang pada 1966 merupakan importir beras terbesar, berhasil mencapai swasembada beras. Produksi beras nasional melonjak dari sekitar 12,2 juta ton pada 1969 menjadi 25,8 juta ton pada 1984.
Pengakuan internasional pun datang. Soeharto diundang untuk berpidato di depan Konferensi ke-23 FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) di Roma, Italia, pada 14 November 1985. Dalam momen bersejarah itu, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut adalah "hasil dari kerja raksasa suatu bangsa," dan bahkan menyerahkan bantuan 100.000 ton padi dari petani Indonesia untuk korban kelaparan di negara-negara Afrika.
"Warisan 'Food is My Last Defence Line"
Kesuksesan tersebut juga didorong oleh perhatian pribadi Soeharto terhadap kehidupan petani. Mantan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (2004-2009) menilai jasa Soeharto di bidang pertanian, terutama dalam pembangunan irigasi, belum tertandingi oleh presiden manapun setelahnya.
Soeharto pernah menyatakan, "Food is my last defence line."
Perhatiannya terhadap petani juga diwujudkan melalui program legendaris Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, Pemirsa). Program TVRI ini mempertemukan petani berprestasi untuk berdialog langsung dengan menteri atau bahkan Presiden Soeharto.
Jasa Lain Soeharto yang Relevan untuk Gelar Pahlawan Nasional

(Pak Harto dan Ibu Tien saat kunjungan kerja ke luar Negeri. (Foto: Perpustakaan Nasional)
Untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, Pak harto telah memenuhi kriteria, termasuk pengabdian dan perjuangan yang luar biasa sepanjang hidupnya dan telah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas, serta berpotensi memajukan bangsa.
Di luar keberhasilan swasembada pangan, jasa-jasa Soeharto yang sering diangkat sebagai pertimbangan gelar Pahlawan Nasional meliputi:
1. Stabilitas Politik dan Ekonomi Awal Orde Baru:
- Penurunan Inflasi: Berhasil menekan laju inflasi yang mencapai 650% pada akhir Orde Lama menjadi 12% dalam beberapa tahun pertama kepemimpinannya.
- Pembangunan Infrastruktur: Membangun infrastruktur dasar secara masif (jalan, pelabuhan, bandara, listrik, telekomunikasi) yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi berikutnya.
2. Pendidikan dan Kesehatan:
- Program Inpres SD: Meluncurkan Instruksi Presiden (Inpres) Pembangunan Sekolah Dasar secara besar-besaran pada 1970-an, yang secara signifikan meningkatkan angka partisipasi sekolah dan menekan buta huruf.
- Program Kesehatan Masyarakat: Mengembangkan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) hingga ke tingkat desa.
3. Kesejahteraan:
- Penurunan Angka Kemiskinan: Angka kemiskinan turun drastis dari 40% pada awal 1970-an menjadi sekitar 11% pada akhir 1990-an.
- Pengembangan Keluarga Berencana (KB): Program KB yang masif dan terstruktur berhasil mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, yang mendapat apresiasi internasional.
Soeharto telah menerima 11 gelar pahlawan dalam bidang militer, salah satunya adalah Pahlawan Tri Matra Bidang Darat setelah memimpin operasi Trikora )Kutip Perpustakaan Nasional)
Editor: Redaksi TVRINews
