TVRINews – Kalimantan
Operasi darat dan udara diperketat menyusul lonjakan hotspot di Kalimantan Tengah, sementara Riau dan Jambi catat nihil titik api.
Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memasuki babak baru dengan hadirnya bantuan internasional. Pemerintah Jepang secara resmi mengerahkan tiga unit helikopter berat jenis CH-47 Chinook untuk memperkuat armada udara nasional yang berjibaku memadamkan titik api di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional tercatat sebanyak 688 titik per 11 September 2026. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di kisaran 569 titik. Kalimantan Tengah tercatat sebagai wilayah dengan konsentrasi tertinggi yakni 271 titik panas, disusul Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
"Pengerahan armada udara kini difokuskan untuk menjangkau medan-medan sulit yang tidak terjangkau oleh satuan tugas darat," ujar otoritas pengelola lingkungan dalam keterangan resminya yang dikutip Minggu 13 september 2026.
Helikopter Chinook milik Japan Ground Self-Defense Force tersebut diangkut menggunakan kapal perang JMSDF JS Kunisaki dan telah bersandar di Terminal Kijing, Kalimantan Barat. Sebanyak 180 personel turut dilibatkan untuk mendukung misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief) ini. Seluruh operasional penerbangan berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta pengawasan keamanan TNI.
Di sisi lain, perkembangan positif terlihat di wilayah Sumatera. Provinsi Riau dan Jambi terpantau nihil titik panas berkepercayaan tinggi, sementara Sumatera Selatan mencatat 11 titik. Kendati demikian, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan masyarakat tetap menyiagakan patroli secara berkala guna mengantisipasi perubahan cuaca yang dinamis.
Dampak karhutla juga dirasakan pada kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jarak pandang di Pontianak sempat menyusut hingga kisaran 1 sampai 3 kilometer akibat kabut asap. Pemerintah terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar demi mencegah eskalasi bencana lingkungan ini.










