TVRINews, Jakarta
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mengerahkan bantuan darurat dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid mengatakan, penanganan korban gempa di NTT dilakukan melalui berbagai bentuk bantuan, mulai dari sembako, makanan, tenda pengungsian, hingga layanan kesehatan.
Selain itu, BAZNAS memberikan perhatian khusus kepada ibu dan anak serta membantu pemulihan sejumlah fasilitas umum yang terdampak, seperti sekolah, masjid, dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
“Ini adalah bagian pengabdian kita kepada Allah, bagian dari pengabdian kita kepada sesama bangsa, mudah-mudahan dicatat oleh Allah sebagai rasa syukur kita atas kemerdekaan yang Allah limpahkan kepada bangsa Indonesia,”ujar Sodik Mudjahid dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 18 Agustus 2026.
Sodik menjelaskan, langkah tanggap darurat telah dilakukan sejak gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026). BAZNAS menerjunkan personel BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) ke Labuan Bajo untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.
Tim tersebut mendirikan posko dan dapur umum, sekaligus menyalurkan bantuan logistik kepada warga di Desa Reo, Kabupaten Manggarai.
BAZNAS RI juga mengajak masyarakat dan para donatur berpartisipasi dalam penanganan dampak gempa melalui infak, sedekah, dan donasi. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak di NTT.
“Kita berharap bahwa pasukan-pasukan kita yang sudah berada di NTT itu juga mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari para muzaki, dari para munfiq, dari para donatur untuk terus memberikan dukungan sedekahnya, infaknya, dan donasinya kepada pasukan-pasukan kita yang mulai hari kemarin sudah bergerak di NTT,”lanjutnya.
Sementara itu, berdasarkan data sementara BNPB per Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, gempa bumi yang diikuti 995 kali gempa susulan tersebut menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka.
Sebanyak 5.659 warga juga dilaporkan mengungsi. Selain itu, gempa mengakibatkan kerusakan pada 2.403 rumah dan 213 fasilitas umum di sejumlah kabupaten terdampak di NTT.










