TVRINews – Kubu Raya, Kalimantan Barat
Operasi Modifikasi Cuaca Digencarkan di Langit Kalimantan Barat demi Meredam Ribuan Titik Panas
Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat memasuki fase krusial. Di tengah ribuan titik panas yang masih membara dan kualitas udara yang memburuk, otoritas penanggulangan bencana mengerahkan teknologi rekayasa atmosfer untuk memicu curah hujan buatan di wilayah tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan langkah intervensi cuaca ini terus dimsimalkan. Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Bencana Asap Kalimantan Barat, tercatat lebih dari 2.610 titik panas terpantau di seluruh wilayah provinsi ini, dengan puluhan titik api aktif yang masih mengancam kawasan hutan dan lahan.
"Operasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pemadaman melalui pemanfaatan potensi awan hujan yang ada," ujar perwakilan BNPB dalam keterangan resminya uang dikutip Rabu 26 Agustus 2026, menguraikan efektivitas intervensi udara guna menekan eskalasi bencana lingkungan tersebut.
Dalam pelaksanaan teknis di lapangan, Satuan Tugas Udara menggunakan pesawat Cassa milik TNI Angkatan Udara yang beroperasi dari Pangkalan Udara Supadio, Pontianak. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini melibatkan sinergi lintas instansi, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Pertahanan.
Sepanjang rangkaian misi, ribuan kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) ditaburkan ke formasi awan potensial di atas wilayah administratif seperti Bengkayang, Landak, Sanggau, hingga Sambas. Langkah ini diambil menyusul prakiraan BMKG yang mengidentifikasi adanya peluang hujan dengan intensitas ringan di sebagian kawasan Kalbar hingga awal September mendatang.
Selain intervensi cuaca dari udara, Satuan Tugas Darat yang melibatkan lebih dari 2.700 personel gabungan terus berjibaku di lapangan. Mereka didukung oleh armada helikopter yang dikerahkan secara intensif untuk melakukan operasi pengeboman air dan patroli udara secara berkala di zona-zona prioritas tinggi, seperti Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Melawi, dan Kayong Utara.
Dampak lingkungan dari rangkaian karhutla ini juga mulai dirasakan masyarakat luas. Pemantauan kualitas udara harian menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana sejumlah wilayah seperti Jongkat dan Sungai Tebelian berada pada kategori tidak sehat, sementara wilayah Sungai Raya tercatat mencapi tingkat polusi kategori sangat tidak sehat akibat asap tebal.
Pemerintah pusat telah menginstruksikan seluruh jajaran posko penanganan di daerah untuk meningkatkan kesiagaan penuh. Mitigasi dan pengawasan ketat tetap diberlakukan guna menekan luas sebaran lahan terdampak, yang sejak awal tahun hingga pertengahan 2026 ini telah mencapai puluhan ribu hektar di bumi Kalimantan Barat.










