TVRINews, Jakarta
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menuturkan jika perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak tahun 2022 lalu masih jauh dari kata selesai. Bahkan, ia menilai jika konflik tersebut memiliki durasi lebih panjang dibandingkan Perang Dunia II.
“Perang Ukraina mulai tahun 2022. Tahun 2022, 2023, 2024, 2025, sudah masuk 2026. Mungkin Perang Ukraina lebih lama dari Perang Dunia Kedua juga,” ujarnya kutip Sabtu, 1 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika Perang Dunia II berlangsung sekitar enam tahun, sedangkan perang Rusia-Ukraina kini telah memasuki tahun kelima tanpa adanya kepastian penyelesaian.
Lantaran hal tersebut, ia menilai jika kondisi tersebut menunjukkan adanya konflik modern yang dapat berlangsung lebih lama dan membawa dampak yang semakin luas. Selain itu, ia mengatakan jika perang tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga mengguncang perekonomian global.
Terlebih, lanjut dia kenaikan harga energi dan terganggunya rantai pasok menjadi contoh nyata bagaimana konflik di satu kawasan dapat dirasakan oleh negara-negara lain.
“Jutaan sudah korban. Dan kita baru mengerti, perang di satu bagian bumi itu pengaruhnya ke mana-mana, kepada harga BBM dan sebagainya,” katanya.
Selain konflik di Ukraina, Presiden Prabowo menyoroti ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah. Situasi di Gaza, Lebanon, kawasan Teluk, hingga Selat Hormuz dinilai masih berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas apabila tidak segera diselesaikan.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman penggunaan senjata nuklir dalam konflik internasional tidak boleh dianggap sepele karena dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat besar bagi dunia.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Menhan turut menyinggung kondisi keamanan di Asia Tenggara. Menurutnya, konflik bersenjata di Myanmar menjadi bukti bahwa kawasan ASEAN juga menghadapi tantangan serius dalam menjaga stabilitas regional.
“Di Myanmar berkecamuk perang saudara dengan belasan atau puluhan milisi bersenjata yang didukung oleh negara-negara lain,” ujarnya.
Ia menilai situasi tersebut menjadi pengingat penting bagi setiap negara untuk terus memperkuat kerja sama dalam menjaga perdamaian dan mengantisipasi dampak geopolitik yang semakin sulit diprediksi.









