TVRINews, Jakarta
TNI Angkatan Darat (TNI AD) dan United States Army (US Army) telah resmi menyelesaikan latihan Bersama (Latma) Ksatria Warrior 2026 yang berlangsung selama 15 hari di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Upacara penutupan dipimpin Pembantu Asisten VIII Kerja Sama Militer Non-Asia Staf Operasi Angkatan Darat, Kolonel Inf Medi Hariyo Wibowo.
Dalam sambutannya, ia menegaskan latihan tersebut menjadi wujud nyata komitmen kedua negara dalam membangun hubungan militer yang dilandasi semangat saling menghormati, saling menguntungkan, dan saling percaya.
“Hal ini menunjukkan bahwa semangat mutual respect, mutual benefit, dan mutual trust bukan hanya menjadi semboyan, namun telah diwujudkan dalam setiap tahapan pelaksanaan latihan,” ujar Medi dalam keterangan yang diterima tvrinews.com di Jakarta pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Selain itu, Medi juga mengapresiasi seluruh personel yang terlibat dalam Latma Ksatria Warrior 2026. Menurutnya, prajurit TNI AD dan US Army tidak hanya mengasah kemampuan tempur, tetapi juga memperkuat hubungan profesional melalui proses belajar, koordinasi, dan komunikasi selama latihan.
Ia berharap hasil latihan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan interoperabilitas kedua angkatan darat sekaligus mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat di bidang pertahanan.
Sementara itu, Perwira Penanggung Jawab Operasi USARPAC, Kolonel Richard King, menilai keberhasilan latihan mencerminkan eratnya kerja sama kedua negara.
“Kerja sama yang terjalin selama latihan ini sangat berharga. Kemampuan kita untuk berkoordinasi dan bertindak sebagai satu tim menunjukkan kekuatan hubungan kedua negara yang semakin kokoh,” kata Richard.
Selama pelaksanaan Latma, prajurit menerima materi mulai dari pembelajaran teori di kelas (Academic Day), latihan kemampuan zeni melalui program Engineer Capabilities (ENCAP) dengan renovasi SDN 04 Peracak, hingga Staff Exercise (Staffex).
Latihan juga mencakup Field Training Exercise (FTX) dan Live Fire Exercise (LFX) menggunakan peluru tajam. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis, taktis, staf, serta koordinasi operasi antara TNI AD dan US Army.










