TVRINews, Jakarta
Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Rontok
Pasar keuangan global bergerak dinamis merespons lanskap geopolitik terbaru di Timur Tengah. Bursa saham Asia terpantau bergerak menguat secara signifikan, kontras dengan harga minyak mentah dunia yang merosot tajam.
Pergerakan kontradiktif ini dipicu oleh sinyal positif dari para pejabat Amerika Serikat (AS) yang mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan arus pasokan energi global sudah semakin dekat.
Berdasarkan data Indikator pasar saham regional, MSCI Asia Pacific, mencatatkan kenaikan 1%, dengan indeks Nikkei Jepang memimpin lonjakan sebesar 2,8%. Sebaliknya, harga minyak mentah jenis Brent ambrol lebih dari 4,6% ke kisaran US$98,70 per barel menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir seiring besarnya ekspektasi pasar terhadap pemulihan jalur urat nadi energi vital tersebut.
Peluang Penurunan Inflasi Global
Meredanya harga komoditas energi ini langsung menurunkan ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya mendongkrak kontrak berjangka obligasi AS (Treasury).
Meski aktivitas perdagangan obligasi fisik di AS, Hong Kong, dan London ditutup karena hari libur nasional, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di kawasan Asia-Pasifik seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru terpantau kompak menurun.
Di pasar ekuitas barat, kontrak berjangka indeks S&P 500 menguat 0,7%. Ini melanjutkan tren positif indeks utama tersebut yang berhasil menguat selama delapan minggu berturut-turut rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak tahun 2023.
Sentimen risk-on ini juga menekan Dolar AS yang melemah terhadap sebagian besar mata uang negara G-10.
Sebaliknya, aset aman tanpa imbal hasil (non-yielding safe haven) seperti emas dan perak justru bergerak naik, terdorong oleh prospek ruang pelonggaran suku bunga yang kembali terbuka akibat meredanya tekanan inflasi.
Pasar telah berada dalam mode bersiap menghadapi situasi pasca-perang Iran selama sebulan terakhir.
Negosiasi Ketat di Balik Layar
Kendati angin segar perdamaian bertiup, proses diplomasi di meja perundingan tetap berjalan alot. Sejumlah pejabat senior AS menyatakan bahwa persetujuan akhir kemungkinan masih membutuhkan waktu beberapa hari mengingat poin-poin krusial masih diperdebatkan.
Kantor berita Iran, Tasnim, bahkan mengingatkan bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih rentan runtuh karena menuduh AS menghambat klausul penting, termasuk tuntutan Teheran terkait pencairan aset mereka yang dibekukan.
Sikap hati-hati juga ditunjukkan oleh Donald Trump yang menegaskan dirinya tidak akan "terburu-buru" dalam meresmikan perjanjian. Program nuklir Iran tetap menjadi titik buntu utama, di tengah upaya para pemimpin negara Arab yang terus mendorong perpanjangan gencatan senjata.
“Saya rasa pasar cukup optimistis secara hati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah. Peluang kesepakatan saat ini kembali 50:50, meski tentu positif bahwa mereka masih terus bernegosiasi,” kata Kepala Analis Pasar AT Global Markets, Nick Twidale Dalam laman resmi pasar global
Fokus Pasar: Data PCE dan Efek Kebijakan Beijing
Selain perkembangan Timur Tengah, fokus pelaku pasar minggu ini akan tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan angka inflasi Eropa untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.
Investor juga tengah mencermati kepemimpinan baru di bank sentral AS setelah Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Gubernur The Fed. Warsh, yang menjanjikan reformasi besar, diharapkan pasar dapat bergerak cepat dan independen dalam menghadapi tantangan inflasi jangka panjang.
Di sisi lain, sentimen pasar regional sedikit dibayangi oleh langkah agresif China. Beijing baru saja meluncurkan kampanye besar-besaran terhadap perdagangan lintas batas ilegal demi membendung arus keluar modal (capital outflow).
Kebijakan tegas ini sempat memicu koreksi pada saham-saham perusahaan China yang melantai di bursa AS. Meskipun fluktuasi pasar diproyeksikan masih akan mewarnai pasar dalam beberapa waktu ke depan, indikasi fisik di lapangan menunjukkan situasi mulai mencair.
Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 33 kapal termasuk supertanker minyak mentah Irak menuju China dilaporkan telah berhasil melintasi garis blokade di Selat Hormuz setelah mengantongi izin dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.










