TVRINews, Jakarta
Langkah Cepat Cegah Krisis Air dan Karhutla.
Pemerintah Indonesia bergerak cepat menyusun strategi nasional demi menghadapi ancaman fenomena iklim El Nino yang diprediksi mulai mengintai wilayah Nusantara pada pertengahan tahun ini. Langkah mitigasi agresif diambil guna menekan risiko kemarau panjang, krisis air bersih, hingga lonjakan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan El Nino akan mulai memengaruhi iklim Indonesia pada Juni 2026 dan berpotensi bertahan hingga Maret atau Mei 2027. Dampaknya tidak main-main: musim kemarau yang lebih panjang, lonjakan suhu udara, serta merosotnya curah hujan secara drastis di berbagai wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi tegas agar seluruh lini pemerintah melakukan langkah antisipasi sejak dini sebelum dampak El Nino meluas dan melumpuhkan sektor-sektor krusial.
"Bapak Presiden memberikan arahan kepada BMKG agar memperkuat operasi modifikasi cuaca sehingga kita dapat mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino sebaik mungkin," ujar Faisal dalam keterangan resminya BMKG Yang dikutip Senin 25 Mei 2026.
Senjata Modifikasi Cuaca dan Siaga Karhutla
Strategi utama yang digenjot pemerintah adalah perluasan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hal ini difokuskan pada wilayah-wilayah rawan kekeringan secara bertahap. Tujuannya adalah mengamankan dan menjaga volume air di berbagai waduk, embung, bendungan, serta kawasan tangkapan air sebelum cadangan air nasional merosot tajam.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling diwanti-wanti karena memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap intensitas hujan.
Selain isu ketahanan air, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap ancaman karhutla yang kerap mengintai saat musim kering ekstrem. BMKG bersama kementerian terkait kini tengah intensif memetakan titik panas, terutama pada lahan gambut yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sebanyak enam provinsi yang memiliki risiko tinggi kebakaran lahan gambut kini masuk dalam radar prioritas pengawasan ketat.
"Terdapat enam provinsi yang menjadi fokus pengendalian karhutla, di antaranya Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan," tutur Faisal.
Menjaga Kelembapan Gambut Sebelum Puncak Kemarau
Dalam eksekusinya, pemerintah mengombinasikan teknologi dan data mutakhir. Data kondisi air tanah dari Kementerian Lingkungan Hidup dijadikan indikator utama. Jika tinggi permukaan air di lahan gambut terdeteksi menyusut di bawah batas aman, OMC atau hujan buatan akan langsung dierahkan demi menjaga kelembapan tanah agar tidak memicu titik api.
Dengan puncak musim kemarau yang diprediksi jatuh pada Agustus hingga September 2026, koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah kini dipacu lebih cepat.
Pemerintah ambisius memastikan agar El Nino kali ini tidak sampai memukul sektor pangan, stabilitas energi, hingga kesehatan masyarakat berkaca pada sejarah kelam El Nino terdahulu yang sempat memicu kelangkaan pangan dan polusi kabut asap hebat.










