TVRINews, Pasuruan
Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029 untuk memperkuat produksi susu nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor pada 2030.
Selain itu Kementan juga memperkuat koperasi, produktivitas, pembiayaan, pakan, hingga kepastian penyerapan susu peternak.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan, produksi susu segar dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan industri persusuan sekaligus pentingnya memperkuat peternakan rakyat.
“Kita masih membutuhkan penambahan sapi perah dalam jumlah besar. Tetapi yang dibangun bukan hanya populasinya. Produktivitas, kesehatan hewan, pakan, pembiayaan, sampai kepastian penyerapan susu peternak juga harus disiapkan bersama,” kata Agung, dikutip dari siaran persnya, Rabu, 30 September 2026.
Untuk mempercepat penambahan populasi, pemerintah menyiapkan skema dukungan bagi peternak yang mencakup uang muka pembelian sapi, asuransi, kandang, dan alat perah. Sebagian kebutuhan pembiayaan juga dapat menggunakan skema perbankan.
“Kita ingin peternak bisa menambah sapi tanpa harus menanggung seluruh biaya di awal. Karena itu, pemerintah menyiapkan skema dukungan yang lebih sesuai dengan karakter usaha sapi perah,” ujar Agung.
Ia menegaskan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kepastian pasar. Menurutnya, peternak tidak boleh menghadapi persoalan penyerapan ketika produksi susu meningkat.
“Tidak boleh ada susu segar peternak yang tidak terserap. Kalau produksi ditingkatkan, industri dan pasarnya juga harus siap. Peternak perlu mendapat kepastian bahwa susu yang mereka hasilkan memiliki pasar,” tegas Agung.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) mengatakan, penguatan koperasi menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kemandirian susu nasional.
Menurut Titiek, koperasi memiliki posisi strategis untuk menghubungkan peternak dengan industri sekaligus memperkuat rantai pasok susu dari tingkat produksi hingga penyerapan.
“Kami ingin melihat bagaimana rantai pasok susu berjalan, apa yang masih menjadi hambatan, serta dukungan apa yang diperlukan agar peternak, koperasi, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling memperkuat,” pungkas Titiek.










