TVRINews, Jakarta
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan perlunya penguatan edukasi imunisasi kepada masyarakat, menyusul masih ditemukannya penolakan vaksinasi di sejumlah daerah di Indonesia.
Menkes menyebut, pemerintah sebenarnya telah menyiapkan seluruh kebutuhan program imunisasi, mulai dari perencanaan, pengadaan vaksin, hingga distribusi ke berbagai wilayah. Namun, tantangan terbesar saat ini berada pada aspek pemahaman dan penerimaan masyarakat.
Menurut Budi, upaya edukasi menjadi kunci utama untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan penyakit.
“Yang menjadi fokus kita adalah penguatan edukasi imunisasi, karena masih ada masyarakat yang belum sepenuhnya menerima vaksinasi,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip, Rabu, 24 Juni 2026.
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa faktor keluarga masih menjadi alasan utama anak tidak mendapatkan imunisasi. Tidak hanya dari pihak ibu, keputusan tersebut juga kerap dipengaruhi oleh ayah dalam keluarga.
“Banyak kasus menunjukkan bahwa penolakan imunisasi datang dari keluarga. Ternyata bukan hanya ibu, tetapi juga ayah yang tidak mengizinkan,” kata Menkes.
Selain itu, sebagian masyarakat masih memiliki kekhawatiran terhadap efek samping vaksin seperti demam setelah imunisasi. Ada pula kelompok yang menilai imunisasi belum menjadi kebutuhan utama bagi kesehatan anak.
“Masih ada yang khawatir anaknya demam setelah vaksin, dan ada juga yang menganggap imunisasi itu tidak penting,” lanjutnya.
Menkes menegaskan bahwa manfaat imunisasi jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping yang umumnya ringan dan bersifat sementara. Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah penyakit menular yang sempat kembali muncul dapat dicegah apabila cakupan imunisasi berjalan optimal.
Pemerintah berharap penguatan edukasi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga pelaksanaan program imunisasi nasional dapat berjalan lebih merata dan efektif di seluruh Indonesia.










