TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, memperkuat sinergi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo guna mengoptimalkan peluang penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) di Jepang.
Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan secara daring antara Christina Aryani dengan Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir. Pertemuan itu membahas potensi perluasan pasar kerja Indonesia di Jepang, kebutuhan informasi pasar kerja (market intelligence), hingga pelaksanaan Program SMK Go Global.

"Jepang menjadi salah satu negara tujuan penempatan yang sangat strategis bagi pekerja migran Indonesia. Saya percaya ini menjadi momentum yang baik untuk bersama-sama mencari solusi atas berbagai tantangan sekaligus mengoptimalkan peluang yang tersedia," ujar Christina dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Kamis, 2 Juli 2026.
Menurutnya, Jepang masih memiliki kebutuhan tenaga kerja yang tinggi di berbagai sektor, seperti kesehatan, manufaktur, pertanian, pengolahan makanan, dan caregiving. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang besar yang perlu dimanfaatkan dengan menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan sesuai kebutuhan industri.
Dalam pertemuan itu, Christina juga memaparkan Program SMK Go Global yang merupakan salah satu arahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK agar siap bekerja di luar negeri melalui pelatihan bahasa, peningkatan keterampilan, serta sertifikasi sesuai standar pasar kerja internasional.
Ia menjelaskan, Jepang menjadi salah satu negara prioritas dalam program tersebut. Pada 2026, pemerintah menargetkan pelatihan bagi 40 ribu peserta untuk berbagai negara dengan sektor prioritas meliputi kesehatan, manufaktur, hospitality, agrikultur, konstruksi, transportasi, hingga pengelasan. Program itu ditujukan untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap ditempatkan di luar negeri.
Untuk mendukung target tersebut, Christina meminta dukungan KBRI Tokyo dalam menyediakan informasi mengenai sektor prioritas, perkembangan regulasi ketenagakerjaan, tren kebutuhan tenaga kerja, serta standar kompetensi yang dibutuhkan industri di Jepang.
Selain itu, KBRI Tokyo juga diharapkan dapat membantu memetakan peluang baru, termasuk kemungkinan penambahan sektor dalam skema Specified Skilled Worker (SSW). Informasi tersebut dinilai penting agar kurikulum pelatihan di Indonesia dapat disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha di Jepang.
"Kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri. Kolaborasi ini menjadi kunci meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar global," ucapnya.










