TVRINews, Jakarta
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terus menunjukkan perkembangan yang semakin kuat dan komprehensif. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyoroti pentingnya penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis guna memperluas kolaborasi dan membangun kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membuka peluang investasi dan kemitraan di pelbagai bidang vital.
"Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok ini terus menunjukkan perkembangan yang semakin kuat dan komprehensif. Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi," ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangannya, Jumat 24 Juli 2026.
Sebagai bagian dari rangkaian penguatan kerja sama tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya juga menerima kunjungan Wakil Gubernur Provinsi Fujian beserta delegasi bisnis Tiongkok dalam kerangka Two Countries Twin Parks (TCTP), yang mencerminkan tingginya minat dunia usaha Tiongkok untuk memperluas investasi di Indonesia.
Sebelumnya, pada 16 Juli 2026 di Shanghai, Menko Airlangga juga turut menandatangani Deklarasi World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pendiri organisasi kerja sama kecerdasan buatan tingkat global tersebut.
“Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Dubes RI Untuk RRT, Kamis, 23 Juli 2026.
Hingga saat ini, sejumlah perjanjian perdagangan telah terjalin diantara kedua negara diantaranya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang mulai berlaku pada 2010 serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang efektif berlaku pada 2022. Sejalan dengan hal tersebut, nilai perdagangan bilateral terus menunjukkan tren yang kuat, dengan nilai perdagangan berdasarkan data Indonesia mencapai sekitar USD154 miliar, sementara berdasarkan data Tiongkok tercatat sekitar USD160 miliar. Sejumlah komoditas ekspor Indonesia diantaranya yakni ferroalloy, nikel matte, lignit, batubara, hingga minyak sawit.
Lebih lanjut, Tiongkok juga merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia dengan kontribusi yang terus meningkat di berbagai sektor strategis. Untuk semakin mendorong realisasi investasi, Pemerintah Indonesia menyediakan berbagai insentif fiskal yang kompetitif, antara lain fasilitas tax holiday hingga 100% sesuai dengan besaran dan kriteria investasi, tax allowance, investment allowance, serta fasilitas super tax deduction guna mendukung peningkatan investasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pemusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi,” pungkas Menko Airlangga.
Di sektor pendidikan, saat ini kolaborasi dengan perguruan tinggi terkemuka seperti Tsinghua University telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan riset dan seminar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bali. Sementara itu pada sektor otomotif, Pemerintah mendorong penguatan investasi perusahaan otomotif Tiongkok, seperti BYD dan Chery, yang kini telah berhasil menembus jajaran lima besar pangsa pasar otomotif di Indonesia.
Di bidang ekonomi digital, Pemerintah juga terus mendorong investasi pada industri semikonduktor, pembangunan infrastruktur serat optik, pengembangan aplikasi digital, serta infrastruktur pusat data (data center) sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga juga melakukan diskusi bersama dengan sejumlah pelaku usaha dari Tiongkok. Dari pihak Indonesia, sejumlah pelaku usaha dari berbagai sektor juga turut dihadirkan, diantaranya industri tekstil, alas kaki, furnitur, pendidikan, kemasan plastik, kawasan industri, elektronik, hingga energi terbarukan.









