TVRINews, Palembang
Ketua Umum (Ketum) Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu, 19 Juli 2026. Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan itu sekaligus mencatatkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.
Dalam sambutannya, Nannie mengatakan Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional.

"Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia," ujarnya.
Menurut Nannie, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang luas karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
"Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia," katanya.
Kemudian, ia pun mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.
Nannie menjelaskan, kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.
"Kebaya bukan benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, tetapi warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Nannie juga memperkenalkan Gerakan Nasional Seribu Profesi, Seribu Sertifikasi, dan Seribu Pemimpin sebagai program strategis KOWANI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan.
Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian Asta Cita, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dan visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa.
Ia menilai kebaya perlu semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya parade yang berhasil memecahkan Rekor MURI. Mewakili Gubernur Sumatera Selatan, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Apriyadi Mahmud, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan budaya berkelanjutan yang memperkuat pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, dan pengembangan ekonomi kreatif.










