TVRINews, Tangerang Selatan
Kolaborasi bilateral satukan keahlian Control Environment Agriculture Korea dengan pemahaman dinamika iklim lokal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Korea Institute of Science and Technology (KIST) semakin mempererat kerja sama strategis di bidang riset dan inovasi teknologi. Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Seminar Internasional BRIN-KIST ODA bertema “International Joint Cooperation and Future Partnership: Strengthening Indonesia-Korea Collaboration in Smart Greenhouse Technology, Research, and Innovation” di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong
Kolaborasi bilateral ini dirancang khusus untuk menjawab berbagai tantangan sektor pertanian modern, khususnya di wilayah beriklim tropis.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menegaskan bahwa kerja sama melalui program Official Development Assistance (ODA) tidak sekadar berfokus pada pembangunan fisik fasilitas Smart Greenhouse. Lebih dari itu, program ini menjadi instrumen penting untuk penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), alih pengetahuan (transfer of knowledge), serta pengembangan teknologi yang selaras dengan karakteristik iklim Indonesia.
Menurut Nugroho, peresmian fasilitas BRIN-KIST Smart Greenhouse di Cibinong merupakan tonggak penting dalam kemitraan kedua negara. Namun, esensi keberhasilan kolaborasi diukur dari kemampuan membangun kapabilitas riset secara menyeluruh.
“Kerja sama ini bukan sekadar transfer hardware, tetapi yang lebih penting adalah transfer kapabilitas,” ujar Nugroho dalam keterangan resminya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia menambahkan, kunci keberhasilan inovasi ini terletak pada kombinasi keahlian Korea dalam bidang Control Environment Agriculture (pertanian dengan lingkungan terkendali) dan pemahaman mendalam para periset Indonesia terhadap dinamika iklim tropis. Sinergi ini diharapkan melahirkan teknologi pertanian yang canggih sekaligus aplikatif.
Integrasi Teknologi Modern di Smart Greenhouse
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, memaparkan bahwa fasilitas Smart Greenhouse di Cibinong telah dilengkapi dengan berbagai teknologi mutakhir masa kini.
Fasilitas tersebut mengintegrasikan sistem sensor lingkungan, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sistem fertigasi otomatis, teknologi pengendalian iklim mikro, hingga manajemen budidaya berbasis data (data-driven farming).
Kendati berbasis teknologi tinggi, Cuk menekankan bahwa tantangan utamanya bukan sekadar mengadopsi teknologi asal Korea, melainkan proses adaptasi dan lokalisasi agar sistem tersebut bekerja secara optimal di iklim tropis Indonesia. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi living laboratory atau ruang kolaborasi aktif bagi periset kedua negara.
Living Laboratory dan Sinergi Kekuatan Kedua Negara
Direktur Jenderal KIST Gangneung, Kim Joosun, menyambut baik kemitraan strategis ini. Ia menilai Korean Smart Greenhouse telah berkembang menjadi laboratorium hidup yang ideal bagi periset Indonesia dan Korea untuk mengumpulkan data, menguji performa tanaman, dan merancang solusi pertanian cerdas yang ramah iklim tropis.
Kim memaparkan bahwa kolaborasi ini menggabungkan keunggulan masing-masing pihak: BRIN memiliki kekuatan di bidang riset pertanian tropis, jaringan luas, serta pemahaman mendalam atas kebutuhan lokal; sementara KIST unggul dalam pengembangan smart farming, sistem budidaya berefisiensi tinggi, dan riset terapan.
“Dengan menggabungkan kekuatan tersebut, kita memiliki peluang besar untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lokal dan dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas,” pungkas Kim Joosun, sekaligus menegaskan komitmen KIST untuk terus membersamai BRIN dalam memajukan sains dan inovasi bersama.










