TVRINews, Bekasi
Suara tepuk tangan menggema di Arswendo Atmowiloto Centre for Performing Arts, LSPR Transpark Bekasi, akhir pekan lalu. Momen tersebut menjadi pembuka peresmian London School Beyond Academy (LSBA) Bekasi.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari siswa LSBA Bekasi, Marthalima Dwi Satryo, yang tampil berduet bersama Mr. Josef Radel. Penampilan itu sekaligus menunjukkan potensi penyandang disabilitas yang dapat berkembang ketika memperoleh ruang dan kesempatan.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, yang menyaksikan penampilan tersebut mengaku tersentuh.
“Melihat penampilan anak-anak kita tadi, hati saya sangat tersentuh. Mereka membuktikan bahwa di balik keterbatasan ada talenta luar biasa yang mekarnya hanya butuh satu hal: kesempatan,” ujar Fatma dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kehadiran LSBA Bekasi menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan vokasional bagi remaja penyandang disabilitas. Berlokasi di lingkungan LSPR Transpark Bekasi, LSBA tidak hanya memberikan pembelajaran di kelas, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan formal.
“Setelah pendidikan formal, kita harus menyiapkan anak-anak untuk menjadi lebih mandiri, bermartabat, dan bisa diterima di masyarakat,”lanjutnya.
Menurut Fatma, kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus berkembang. Pendidikan lanjutan dinilai perlu diarahkan pada keterampilan praktis, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, serta kesiapan memasuki dunia kerja.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Dukungan dan kasih sayang keluarga menjadi salah satu fondasi dalam keberhasilan pendidikan vokasional bagi penyandang disabilitas.
Fatma turut mengapresiasi konsistensi Founder & CEO LSPR Institute, Prita Kemal Gani, serta Direktur LSBA & LSCAA, Associate Professor Chrisdina, dalam menghadirkan pendidikan vokasional yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenali sekaligus mengembangkan potensi mereka.
“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang materi yang diberikan di kelas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini memiliki kepercayaan diri, keterampilan, dan kesempatan untuk berkontribusi di masyarakat,”ucapnya.
Pembelajaran Disesuaikan Kemampuan Peserta
Direktur LSBA & LSCAA, Associate Professor Chrisdina, mengatakan setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, LSBA menerapkan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
“Pembelajaran di LSBA menekankan praktik langsung dengan program yang disesuaikan dengan kemampuan peserta,”ungkap Chrisdina.
Selain keterampilan teknis, peserta didik juga mendapatkan pembekalan mengenai komunikasi, kemampuan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepercayaan diri.
Proses pembelajaran menggunakan metode fun learning, visual, dan auditori dengan menggabungkan aspek pedagogis, teknologi, serta emosional sesuai kebutuhan peserta.
LSBA Bekasi memiliki empat bidang keterampilan, yaitu Tata Boga, Kriya, Administrasi Perkantoran, serta Digital Desain dan Cetak.
Peserta mengikuti pembelajaran selama enam semester yang kemudian dilanjutkan dengan dua semester pelatihan kerja. Sebelum diterima, calon peserta yang merupakan lulusan SMA atau sederajat terlebih dahulu menjalani asesmen untuk menentukan kebutuhan dan program pengembangan yang sesuai.
LSBA Bekasi memiliki kapasitas maksimal 70 peserta didik setiap angkatan. Fasilitas praktik yang tersedia antara lain Laboratorium Tata Boga, Sablon, Kriya, dan Kerajinan Tangan.
Disiapkan Masuk Dunia Kerja
Pendidikan di LSBA tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Para peserta juga diarahkan agar mampu mengaplikasikan kemampuan mereka di dunia kerja.
Kementerian Sosial menjadi salah satu instansi yang membuka ruang bagi siswa maupun lulusan LSBA. Salah satunya melalui Selalu Ada Kopi, kafe disabilitas yang berada di Kantor Kementerian Sosial.
Kafe tersebut menjadi ruang kerja profesional bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan sebagai chef, barista, dan waiter. Para pekerja juga mendapat pengalaman dalam mengelola operasional usaha.
Kolaborasi antara Kementerian Sosial, LSBA, dan berbagai pihak yang tergabung dalam DIFABELA DWP Kemensos juga membuka peluang bagi karya penyandang disabilitas untuk bersaing di pasar terbuka.
Produk kriya dan kuliner yang dihasilkan para siswa dinilai mampu memenuhi standar kompetensi industri. Kemensos bahkan berencana mengadaptasi pola pembelajaran dan pendampingan terstandar LSBA ke sejumlah sentra rehabilitasi sosial di berbagai daerah.
Dalam peresmian tersebut turut hadir Penasehat DWP Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Shinta Maruarar Sirait.
Fatma Saifullah Yusuf bersama Shinta Maruarar, Founder & CEO LSPR Institute Prita Kemal Gani, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesona Pribadi Sejahtera yang menaungi LSPR, Kemal Effendi Gani, serta Ex Duta Besar Indonesia untuk Qatar H.E. Ridwan Hassan, melakukan pemotongan pita sebagai tanda dibukanya LSBA Bekasi di lantai dua.
Kehadiran LSBA Bekasi diharapkan menjadi ruang inklusi baru bagi penyandang disabilitas. Selain mengembangkan bakat dan keterampilan kerja, lembaga ini juga diarahkan untuk membuka akses terhadap dunia kerja serta mendorong kemandirian ekonomi jangka panjang bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Bekasi dan sekitarnya.










