TVRINews, Jakarta
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi mengajak kalangan perguruan tinggi, khususnya para guru besar dan akademisi di bidang ekonomi, untuk berkontribusi dalam proses restrukturisasi badan usaha milik negara (BUMN). Hal tersebut, ia katakan usai hadiri acara Sarasehan Kebangsaan pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Sabtu, 27 Juni 2026 hari ini.
Tak hanya itu, ia mengatakan jika masukan berbasis kajian ilmiah dibutuhkan agar transformasi BUMN berjalan lebih efektif.
Selain itu, ia menuturkan jika forum KSTI ini menjadi ruang yang strategis untuk mempertemukan pemerintah dengan kalangan akademisi dalam merumuskan solusi bagi berbagai agenda pembangunan nasional, termasuk pembenahan BUMN.
“Saya kira ini sesuatu yang luar biasa untuk memberikan gambaran kepada para guru besar, para dekan, terutama yang bidangnya ekonomi, agar bersama-sama memberikan masukan, ilmu, dan kajian untuk mempercepat proses restrukturisasi BUMN kita,” ujar Prasetyo.
Ia juga membeberkan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo pemerintah terus melakukan efisiensi jumlah BUMN. Dari sekitar 1.077 BUMN yang ada sebelumnya, hingga kini sekitar 240 perusahaan telah melalui proses penggabungan atau restrukturisasi.
Menurut Prasetyo, kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menyederhanakan struktur kelembagaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi anggaran negara.
“Dari proses efisiensi dan pengurangan jumlah BUMN itu saja, kalau tidak salah perhitungannya, kita sudah bisa menghemat sekitar Rp4 hingga Rp5 triliun,” katanya.
Anggaran yang berhasil dihemat tersebut, lanjut Prasetyo, diharapkan dapat dialihkan untuk memperkuat BUMN yang masih memerlukan pembenahan, baik dari sisi permodalan maupun tata kelola perusahaan.
Selain membahas restrukturisasi BUMN, Prasetyo mengungkapkan pemerintah akan melanjutkan rangkaian Sarasehan Kebangsaan dengan mengangkat sektor kelautan dan perikanan sebagai tema berikutnya.
Ia menilai sektor tersebut memiliki potensi besar sehingga membutuhkan dukungan riset, inovasi, dan pemikiran dari perguruan tinggi.
“Perlu dorongan besar dari kita semua, perlu kerja sama seluruh pemangku kepentingan, terutama kampus dan para guru besar yang memiliki keahlian di bidang perikanan, kelautan, dan perkapalan,” ujarnya.
Prasetyo berharap kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi terus diperkuat agar kebijakan strategis nasional dapat disusun berdasarkan hasil riset dan kajian ilmiah yang berdampak bagi pembangunan Indonesia.










