TVRINews, Keerom
Sebanyak 20 siswa SD Negeri Soom di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, dilibatkan dalam pemetaan lingkungan sekaligus menyampaikan harapan terhadap masa depan kawasan tempat tinggal mereka melalui program pemetaan partisipatif dan “Gambar Harapan” yang digelar Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (Undip).
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya belajar membaca peta, tetapi juga mengenali kondisi lingkungan secara langsung serta menyuarakan kebutuhan dan impian mereka.
Kegiatan di SP 2 Woslay tersebut memberikan manfaat langsung berupa peningkatan literasi spasial, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian anak untuk menyampaikan sudut pandangnya. Bagi sekolah, metode ini menjadi alternatif pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi di kelas dengan kehidupan sehari-hari.

“Selama ini anak-anak hanya belajar di kelas, tetapi melalui kegiatan ini mereka langsung keluar dan belajar dari lingkungan. Mereka jadi mengenal hal-hal baru. Pembelajaran seperti ini sangat menarik bagi anak-anak dan perlu terus dikembangkan,” kata Kepala SD Negeri Soom, Sri Muryani dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Jumat, 18 September 2026.
Dengan pendampingan TEP Undip, para siswa diajak mengamati, mengenali, dan menandai berbagai objek penting di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka kemudian menuangkan gambaran tentang kawasan yang diharapkan pada masa depan melalui sesi 'Gambar Harapan'.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot Undip, Dr. Sariffuddin, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menempatkan anak sebagai subjek yang memiliki pengetahuan dan pandangan mengenai kampungnya sendiri.
“Kalau biasanya belajar peta itu melihat gambar yang sudah ada di buku, hari ini adik-adik membuat petanya sendiri. Kami, orang dewasa, melihat kampung dengan cara kami. Namun, anak-anak juga memiliki cara sendiri untuk menceritakan kampungnya,” ujarnya.
Peta dan gambar yang dihasilkan tidak hanya menjadi bagian dari proses belajar. Perspektif anak-anak juga dapat memperkaya pemahaman mengenai kondisi kawasan serta menjadi masukan awal bagi pengembangan lingkungan yang lebih ramah anak dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut penting karena pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan kegiatan ekonomi, tetapi juga dengan kualitas hidup generasi yang akan tumbuh dan melanjutkan pembangunan di wilayah tersebut.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat, pemetaan partisipatif ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi metode pembelajaran berkelanjutan. Dengan demikian, anak-anak di Kawasan Transmigrasi Senggi tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memperoleh ruang untuk ikut membayangkan dan menyuarakan masa depan kawasan tempat mereka tumbuh.










