TVRINews – Jakarta
Jakarta Pertegas Aliansi Hijau Bersama Beijing
Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok sepakat mempererat kerja sama bilateral di bidang lingkungan hidup guna mengakselerasi transisi energi bersih dan aksi iklim yang inklusif.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, bersama Utusan Khusus Perubahan Iklim Tiongkok, Liu Zhenmin, di Jakarta.
Pertemuan strategis ini merefleksikan keselarasan visi kedua negara dalam mengintegrasikan perlindungan ekosistem sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Menteri Jumhur menggarisbawahi bahwa negara-negara berkembang memegang peran kunci dalam menghadirkan solusi iklim tanpa harus mereduksi agenda pembangunan nasional.

(Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, (Kiri) bersama Utusan Khusus Perubahan Iklim Tiongkok, Liu Zhenmin, di Jakarta (Foto: HUMAS/KLH-BPLH) )
"Indonesia meyakini bahwa perlindungan lingkungan bukan merupakan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection," ujar Menteri Jumhur melalui keterangan resminya dikutip Jumat 31 Juli 2026.
Pendekatan nasional tersebut bertumpu pada tiga pilar utama, yakni mitigasi, adaptasi, serta pemerataan kesejahteraan sosial. Kebijakan ini turut didukung oleh akselerasi pasar karbon domestik, instrumen kredit keanekaragaman hayati, serta penegakan prinsip keadilan iklim yang berpihak pada masyarakat luas.
Menanggapi hal tersebut, Utusan Khusus Tiongkok, Liu Zhenmin, memuji kepemimpinan Indonesia di kawasan regional sekaligus menyatakan kesiapan negaranya untuk memperluas cakupan kolaborasi praktis.
"Tiongkok memandang Indonesia sebagai salah satu mitra strategis paling penting di ASEAN dan Negara-Negara Selatan. Kami siap memperdalam kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini bencana, ekonomi sirkular, dan perlindungan lingkungan," ungkap Liu.
Pilar Utama Kemitraan Strategis
Agenda kerja sama bilateral ini mencakup beberapa fokus krusial guna memastikan efektivitas kebijakan di lapangan:
• Transisi Energi Berkeadilan: Penguatan investasi pada sektor energi terbarukan, perluasan ekosistem kendaraan listrik, serta pengembangan rantai pasok industri hijau yang adaptif.
• Inovasi Teknologi Lingkungan: Pemanfaatan sistem peringatan dini berbasis satelit dan kecerdasan buatan, konservasi hutan hujan, serta pengelolaan sampah berkelanjutan.
• Pengembangan Kapasitas SDM: Pertukaran keahlian riset dan pelatihan intensif guna mencetak tenaga kerja terampil di sektor ekonomi hijau.
• Solidaritas Global: Penyelarasan suara negara-negara berkembang dalam forum internasional untuk mendesak komitmen nyata negara maju terkait pendanaan iklim dan transfer teknologi.
Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat di kedua negara, sekaligus memperkuat kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan global.









