TVRINews – Kalimantan
Penurunan Titik Panas Nasional Diiringi Upaya Intensif Pembasahan Lahan di Kalimantan
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah prioritas Indonesia menunjukkan dinamika positif seiring dengan penurunan jumlah titik panas (hotspot).
Otoritas gabungan tetap menyiagakan armada udara dan memperluas cakupan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengantisipasi potensi peningkatan titik api di beberapa daerah rawan.
Berdasarkan laporan pemantauan dari Kementerian Kehutanan minggu 13 september 2026, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional tercatat berada di angka 567 titik. Angka ini menunjukkan penurunan sebanyak 121 titik dibandingkan catatan pada hari sebelumnya.
Meski tren secara umum melandai, wilayah seperti Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan justru mencatatkan sedikit peningkatan yang memerlukan intervensi cepat di lapangan.
Berdasarkan kutipan laman resmi Kementerian Kehutanan RI, Untuk menekan eskalasi api, pemerintah mengintensifkan rekayasa cuaca di dua wilayah utama. Operasi Modifikasi Cuaca yang dilangsungkan di Kalimantan Barat sejak awal September dilaporkan telah menghasilkan estimasi volume air hujan hingga 87,9 juta meter kubik. Langkah serupa juga digencarkan di Kalimantan Tengah guna memastikan pembasahan pada ekosistem gambut tetap terjaga secara berkelanjutan.
"Pengerahan seluruh sumber daya dilakukan berdasarkan perkembangan titik panas, verifikasi lapangan, serta kondisi meteorologis dengan prioritas utama mencegah api meluas," ujar perwakilan otoritas penanggulangan karhutla dalam keterangan resminya.
Selain operasi darat yang melibatkan tim gabungan Manggala Agni, TNI, Polri, dan masyarakat, kapasitas udara turut diperkuat melalui pengerahan puluhan unit helikopter untuk misi pemadaman (water bombing) maupun patroli. Dukungan internasional berupa helikopter berat dari negara sahabat turut disiagakan setelah merampungkan tahap uji kelayakan teknis.
Pemerintah pusat melalui arahan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menekankan pentingnya langkah pencegahan dini serta edukasi intensif kepada masyarakat hingga tingkat desa. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menekan praktik pembukaan lahan yang tidak sesuai aturan.
Di sisi lain, pemantauan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak masih fluktuatif. Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk secara berkala memantau indeks kualitas udara lokal, mengurangi aktivitas luar ruangan apabila polusi mencapai kategori rentan, serta menggunakan pelindung pernapasan demi meminimalisasi risiko kesehatan bagi kelompok sensitif seperti anak-anak dan lansia.










