TVRINews, Jawa Tengah
Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 yang digelar Direktorat Kursus dan Pelatihan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menjadi ruang tumbuh bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun usaha mandiri berbasis budaya lokal.
Melalui pelatihan membatik, peserta dari berbagai latar belakang mendapat kesempatan memperdalam keterampilan, termasuk santri berkebutuhan khusus tunarungu dan tunawicara asal Jepara, Jawa Tengah.
Salah satu peserta, Ajibatin Ni’mah atau yang akrab disapa Mbak Aik, merupakan alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara. Meski memiliki keterbatasan komunikasi, ia tetap aktif mengikuti pelatihan membatik yang berlangsung sejak Mei hingga Juni 2025.
Pendamping pelatihan PKW 2025, Muhammad Zainal Abidin, menjelaskan bahwa Aik sebenarnya sudah mengenal dasar membatik sejak duduk di bangku sekolah. Kemampuan tersebut kemudian diperdalam melalui program PKW.
“Untuk komunikasinya menggunakan bahasa isyarat dan kebetulan saya mendampingi untuk membantu komunikasi. Mbak Aik mulai belajar membatik sejak sekolah, lalu dilanjutkan melalui pelatihan PKW untuk mengasah kemampuan lebih dalam tentang batik,” ujar Abidin dalam keterangan tertulis, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menambahkan, peserta program PKW tidak hanya mendapat pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan lanjutan hingga Maret 2026 guna membantu mereka mengembangkan usaha secara mandiri.
Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, mengapresiasi semangat Aik untuk menjadi wirausaha melalui keterampilan membatik.
“Direktorat Kursus dan Pelatihan telah merancang model pembelajarannya bersifat inklusif, sehingga peserta didik yang memiliki keterbatasan secara fisik tetap mampu mengikuti proses belajar, serta dapat mewujudkan cita-citanya di masa depan,”ungkap Yaya.
Saat ini, Aik masih aktif belajar di pondok pesantren sambil mengembangkan kemampuan membatik di sela kegiatan mengaji. Bersama tim pendamping, karya batiknya mulai dipasarkan secara daring melalui toko digital “Santui Jepara”, singkatan dari Santri Tuli.
Menurut Abidin, program PKW juga berperan dalam meningkatkan rasa percaya diri peserta disabilitas agar mampu berkarya dan mandiri secara ekonomi.
“Kami berharap ke depan ada lebih banyak pelatihan khusus bagi teman-teman disabilitas, karena mereka membutuhkan arahan dan pendampingan untuk membangun kepercayaan diri,” ucapnya.
Cerita serupa datang dari Tsabita Durratul Hikmah, alumni SMKN 2 Jepara yang turut mengikuti PKW 2025. Berbekal pengalaman belajar seni batik di sekolah, Tsabita bersama rekannya membangun usaha kelompok bernama Batik Catur Wastawa.
Produk batik mereka kini mulai dipasarkan secara daring, meski masih dalam tahap pengembangan produksi dan pemasaran.
Proses produksi dilakukan di wilayah Sekuro, Jepara, dengan mengangkat motif khas daerah seperti Lung-lungan Jepara yang terinspirasi dari seni ukir tradisional.
“Dengan adanya pelatihan, saya jadi lebih mendalami tentang batik dan mendapatkan pengetahuan tentang bahan serta proses produksinya,” kata Tsabita.
Instruktur PKW 2025 dan 2026 Dekranasda Kabupaten Jepara, Titik Susanti, menjelaskan bahwa pelatihan diikuti 15 peserta dari berbagai sekolah dan daerah, termasuk peserta disabilitas.
Pelatihan berlangsung selama 32 hari dengan metode blended learning dan total 250 jam pembelajaran. Para peserta juga didorong mengangkat potensi budaya lokal ke dalam motif batik yang mereka kembangkan.
“Anak-anak mengangkat budaya lokal dari daerah masing-masing. Ada yang membuat motif ukiran Jepara, terumbu karang, ikan, kura-kura, sampai keindahan pesisir Bandengan,” ujar Titik.
Ia menilai kemampuan teknis peserta dalam membatik sudah cukup baik, namun tantangan terbesar masih berada pada sisi pemasaran dan pengembangan usaha.
“Kalau membuat batik, anak-anak sudah terampil. Tantangannya memang di pemasaran. Karena itu kami berharap ada program lanjutan terkait marketing, manajemen usaha, dan strategi pemasaran produk,” jelasnya.
Pada 2026, program PKW di Jepara akan kembali dilaksanakan dengan jumlah peserta meningkat menjadi 30 orang. Program ini diharapkan semakin memperluas akses pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat, termasuk kelompok rentan dan peserta didik berkebutuhan khusus.
Melalui PKW, Kemendikdasmen terus mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis keterampilan dan budaya lokal, sekaligus memperkuat pendidikan yang inklusif agar setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mandiri.










