TVRINews, Banda Aceh
Upaya menekan angka zero dose imunisasi di tingkat desa terus dilakukan melalui pendekatan langsung kepada masyarakat. Di wilayah kerja posyandu setempat, tercatat terdapat 1.132 kepala keluarga (KK) dengan total 3.727 warga, yang terdiri dari 180 bayi dan balita, 189 remaja, 20 ibu hamil, 1.141 usia produktif, serta 241 lansia.
Bidan Desa Indah Sari, menjelaskan bahwa strategi utama dalam menekan angka zero dose adalah melalui layanan jemput bola dengan mendatangi langsung rumah warga, terutama ibu yang baru melahirkan dan bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar.
“Kami melakukan kunjungan bagi pasien yang tidak datang ke posyandu, terutama ibu yang baru melahirkan. Kami datang ke rumah untuk memberikan imunisasi HB0 dan imunisasi dasar lainnya. Kami juga memastikan apakah sudah mendapat layanan di fasilitas kesehatan lain atau belum. Jika belum, kami berikan langsung di rumah,”kata Indah dalam keterangan yang diterima tvrinews di Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa pelayanan ini difokuskan pada bayi baru lahir agar tidak ada yang terlewat dari imunisasi dasar awal.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan, terutama karena banyak orang tua yang bekerja sehingga tidak sempat membawa anak ke posyandu.
“Banyak orang tua bekerja, sehingga anak dititipkan ke keluarga atau tempat lain, jadi tidak sempat dibawa ke posyandu,”jelasnya.
Selain faktor kesibukan, tantangan lain yang dihadapi adalah pengaruh informasi hoaks di media sosial yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
“Hoaks sangat berpengaruh, terutama isu halal dan haram. Tapi kami terus memberikan penyuluhan bahwa imunisasi sudah diuji dan dinyatakan halal oleh MUI,”ucapnya.
Ia juga menyebut masih adanya penolakan dari sebagian warga saat petugas kesehatan melakukan kunjungan rumah.
“Kadang ada yang tidak mau menerima kami, bahkan tidak membuka pintu meski kami tahu mereka ada di dalam rumah,”pungkasnya.
Meski demikian, setiap kendala di lapangan tetap ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan puskesmas, termasuk melibatkan tim konseling untuk memberikan pendekatan edukasi kepada masyarakat agar imunisasi tetap dapat berjalan optimal.










