TVRINews, Jakarta
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menangani rehabilitasi dan rekonstruksi 137 unit prasarana peribadatan yang terdampak bencana di Provinsi Aceh. Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 116 lokasi atau 84,67 persen telah memasuki tahap konstruksi.
Penanganan tersebut dilakukan untuk memulihkan fungsi fasilitas publik sekaligus membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas keagamaan setelah bencana.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengatakan percepatan pemulihan sarana dan prasarana menjadi bagian penting dalam mendukung kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.

“Kementerian PU akan terus membantu pemulihan sarana dan prasarana yang terdampak bencana. Yang paling penting adalah memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas dan mendapatkan pelayanan dasar dengan baik,” kata Dody dalam keterangan resmi Kementerian PU, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan berdasarkan tingkat kerusakan serta kebutuhan masing-masing bangunan. Penanganan meliputi perbaikan atau penggantian rangka dan penutup atap, plafon, pengecatan dinding, hingga pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP).
Sementara itu, pada bangunan yang mengalami kerusakan berat, pekerjaan difokuskan pada pembangunan fondasi dan struktur utama.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU turut melibatkan masyarakat setempat. Tercatat sebanyak 1.351 tenaga kerja lokal terlibat dalam paket penanganan prasarana peribadatan di Aceh.
Pelibatan tenaga kerja lokal diharapkan dapat mendukung pemulihan ekonomi masyarakat sekaligus membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak.
Selain prasarana peribadatan, Kementerian PU juga menangani rehabilitasi dan rekonstruksi 69 unit pondok pesantren yang terdampak bencana.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 lokasi telah memasuki tahap konstruksi. Penanganan dilakukan untuk memulihkan fungsi bangunan agar aktivitas pendidikan dan kegiatan keagamaan dapat kembali berjalan secara bertahap.
Kementerian PU juga menangani 207 unit prasarana madrasah terdampak bencana. Hingga periode pelaporan, sebanyak 150 unit telah memasuki tahap konstruksi, sedangkan sisanya masih dalam tahap persiapan.
Pekerjaan pada bangunan madrasah meliputi perbaikan atap dan plafon, pengecatan dinding, peninggian lantai, pemasangan keramik, serta pekerjaan pendukung lainnya sesuai kondisi bangunan.
Kementerian PU menyatakan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi terus dikawal dengan memperhatikan mutu konstruksi, kondisi lapangan, dan kebutuhan setiap fasilitas.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi fisik bangunan, tetapi juga mengembalikan fungsi sarana ibadah dan pendidikan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.










