TVRINews, Jakarta
Puluhan tokoh muda dari berbagai latar belakang membedah gagasan serta rekam jejak kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melalui peluncuran buku terbaru berjudul Kepemimpinan AHY dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia di Jakarta. Acara ini menjadi wadah diskusi terbuka untuk mengkritisi kriteria kepemimpinan masa depan yang tidak hanya mengandalkan popularitas media sosial, melainkan visi dan dampak nyata bagi masyarakat.
Staf Khusus Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Herzaky Mahendra Putra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyusunan buku tersebut merupakan bentuk kolaborasi dari 27 penulis yang terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis, akademisi, hingga kepala daerah.
Herzaky menekankan bahwa kehadiran buku ini berawal dari ruang diskusi para generasi muda untuk mendalami substansi kepemimpinan yang sesungguhnya di tengah pesatnya perkembangan arus informasi digital.

"Kita tidak ingin hari ini di media sosial, atau kita bicara mengenai algoritma, itu seakan-akan kalau pemimpin itu adalah yang paling ramai pengikutnya. Kita ingin pemimpin itu yang benar-benar teruji jejak rekamnya, gagasannya, visinya. Kita bisa lihat bagaimana seorang pemimpin itu mengambil keputusan dan bagaimana hasil keputusannya itu benar-benar bisa dirasakan dan berdampak," ujar Herzaky.
Ia juga menambahkan bahwa karya yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas ini merupakan pemikiran yang murni dan orisinal dari para penulis yang mengamati figur AHY secara objektif dari kejauhan, bukan semata karena kedekatan personal.
"Penulis-penulis ini hanya melihat dari kejauhan. Bukan yang dekat, tapi bisa melihat dan menyaksikan serta merasakan. Itulah yang ingin kami lakukan hari ini, bagaimana kepemimpinan itu sebagai suatu gagasan, sebagai suatu visi, diperdebatkan dan didiskusikan di ruang publik dari beragam perspektif. Inilah tradisi baru yang ingin kami bangun," tambahnya.
Sementara itu, akademisi Rocky Gerung yang turut memberikan pandangan dalam acara tersebut menyoroti pentingnya peran keberanian dan karya literasi anak muda dalam memberikan catatan serta dinamika kritis bagi ruang politik nasional.
"Saya tahu ada orang-orang yang mengamati gerak-gerik AHY, bahasa tubuhnya, dan alam pikirannya. Karena itu mereka nekat nulis buku ini. Kita perlu kenekatan dalam politik. Dan hanya buku yang mampu membuat lubang pada kekuasaan, bukan partai," kata Rocky.
Dalam pandangannya, penerbitan buku ini memiliki momen yang penting sekaligus dapat menjadi panduan serta pendorong dialektika pemikiran kepemimpinan Indonesia di masa depan.
"Buku ini terbit secara momentual dan monumental, serta bisa dijadikan sebagai pedoman untuk membaca apa yang akan terjadi di masa mendatang," ungkap Rocky.
Melalui peluncuran buku ini, diharapkan diskursus mengenai kepemimpinan nasional dapat terus berkembang berbasis pada ide, gagasan, dan visi masa depan demi kemajuan bangsa.










