TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pentingnya pelibatan perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui riset, inovasi, dan pengembangan teknologi yang dapat diterapkan secara langsung.
Brian mengatakan ketahanan energi menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang maju. Menurutnya, selain ketahanan pangan, sektor energi merupakan fondasi penting yang menentukan keberlanjutan pembangunan nasional.
“PR kedua terbesar ini adalah energi, ketahanan energi. Ketahanan energi diharapkan menjadi satu fundamental yang sangat kuat,” kata Brian kutip Rabu, 23 September 2026.
Ia menjelaskan Indonesia masih menghadapi tantangan tingginya ketergantungan terhadap impor energi, mulai dari bensin, solar, hingga LPG. Nilai impor komoditas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 40 miliar dolar Amerika Serikat sehingga diperlukan terobosan untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah percepatan elektrifikasi kendaraan, termasuk konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik. Selain itu, pemanfaatan energi terbarukan juga dinilai penting untuk mengurangi penggunaan bahan bakar impor pada sektor ketenagalistrikan.
“Kalau kita bisa mengonversi sepeda motor yang tadinya menggunakan bensin menjadi 100 persen listrik, maka kita bisa mengurangi impor bensin secara signifikan,” ujarnya.
Brian menambahkan transformasi energi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Menurutnya, hasil penelitian dari kampus perlu diarahkan agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu memasuki tahap hilirisasi dan menghasilkan teknologi yang bernilai ekonomi.
Ia mengapresiasi peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam membangun ekosistem penelitian yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan industri sehingga inovasi memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan secara luas.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BRIN Arif Satria menekankan bahwa transformasi energi tidak cukup mengandalkan pembangunan infrastruktur. Ia menilai ekosistem inovasi yang menghubungkan laboratorium, perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci percepatan transisi energi di Indonesia.
Melalui Energy Week 2026, Kemdiktisaintek berharap lahir berbagai rekomendasi, inovasi, dan produk teknologi yang mampu mendukung kemandirian energi sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.










