TVRINews, Malang
Kota Malang, Jawa Timur, terus memperkuat posisinya sebagai kota kreatif dunia melalui pengembangan wisata berbasis kearifan lokal, percepatan digitalisasi, serta penyelenggaraan seribu event sepanjang tahun. Upaya ini diproyeksikan meningkatkan arus wisatawan domestik hingga mancanegara.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan pariwisata menjadi sektor penting dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Ia menyebut penguatan destinasi dilakukan melalui inovasi layanan hingga pembaruan fasilitas pendukung.
“Yang pasti akan memastikan kota Malang ini akan ditutupi oleh wisata-wisata,” ujar Wahyu Hidayat, di Hotel Atria Malang, Jumat, 5 Desember 2025.
Menurutnya, Kota Malang mengedepankan konsep wisata apa adanya yang selaras dengan harapan lokal. Konsep tersebut ia nilai menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus poin penilaian bagi UNESCO.
“Kota Malang seperti, tidak memoles dengan yang mungkin sangat menarik tetapi dengan konsep apa adanya, lihat keharapan lokal ini mudah-mudahan menarik dan itu menjadi salah satu penilaian UNESCO,” ucapnya.
Ia menjelaskan Kota Malang telah menerima surat dari UNESCO di Paris sebagai kota kreatif dunia. Status ini dinilai membuka peluang lebih besar bagi kunjungan wisatawan mancanegara. Wahyu menyebut rilis BPS awal Desember menunjukkan tingkat hunian kamar hotel di Kota Malang meningkat signifikan. Ia menilai pertumbuhan tersebut turut dipengaruhi penyelenggaraan seribu event sepanjang tahun.
“Seribu event ini cukup membuat, kemarin PHRI sempat curhat kepada saya yang di Kota Malang akan memberikan dampak kota dan restoran. Tetapi pada saat kami jelaskan dan kami punya visi-visi dengan seribu event, untuk mempermudah semua kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di Kota Malang,” jelasnya.
Ia menyampaikan rata-rata wisatawan menginap dua hari, sehingga membawa dampak ekonomi bagi hotel, restoran, transportasi, hingga pelaku UMKM.
Sektor swasta turut ambil bagian dalam penguatan ekosistem wisata. Transformasi Atria Hotel Malang menjadi salah satu langkah adaptif industri perhotelan di kota tersebut. Chief Operating Officer Parador Hotels & Resorts, Johannes Hutauruk, menilai pembaruan hotel merupakan respons terhadap perubahan kebutuhan wisatawan.
“Perubahan di Atria Hotel Malang adalah bentuk penyelarasan dengan kebutuhan tamu saat ini. Modernisasi tetap harus berjalan berdampingan dengan karakter budaya dan nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Sementara, General Manager Atria Hotel Malang, Ibnu Darmawan, menegaskan transformasi hotel tidak hanya soal estetika.
“Ini adalah transformasi nilai. Kami ingin setiap tamu merasakan pengalaman menginap yang lebih personal dan mencerminkan kehangatan khas Malang,” tuturnya.
Director of Sales Atria Hotel Malang, I Made Tirta, menambahkan hotel kini menguatkan pendekatan digital dan storytelling.
“Kami menguatkan storytelling, pendekatan digital, dan kerja sama kreatif untuk memperkuat karakter hotel,” ujarnya.
Selain inovasi modern, wisata kreatif dan kampung tematik tetap menjadi daya pikat utama. Kampung Warna-Warni, Kampung 3D, dan Kayutangan Heritage menjadi destinasi favorit turis, termasuk wisatawan mancanegara.
“Data dari BPS dan tamu dari macam negara juga semakin naik akhir-akhir tahun ini dan bulan terakhir ini karena memang ada beberapa kebutuhan yang diminati selain heritagenya,” kata Wahyu.
Pemerintah menekankan revitalisasi kawasan heritage guna menjaga nilai ekonomi dan daya tarik wisata.










