TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan tiga strategi penanganan kesehatan untuk menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau. Strategi tersebut meliputi upaya promotif dan preventif, deteksi dini dan pengobatan, hingga pencegahan komplikasi serta kematian.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, mengatakan strategi tersebut diterapkan untuk melindungi masyarakat dari berbagai risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla.
"Strategi kesehatan dalam kebakaran hutan dan lahan ini kita upayakan baik primer, sekunder, dan tersier," ujar Then kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam Media Briefing Kemenkes, Rabu, 26 Agustus 2026.
Pada strategi primer, Kemenkes berupaya mencegah masyarakat yang sehat agar tidak mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela, serta menggunakan AC dengan metode recirculate atau air purifier untuk mengurangi kadar partikulat di dalam ruangan.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan alat pelindung diri, khususnya masker N95, memantau kualitas udara melalui informasi ISPU, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Sementara itu, strategi sekunder difokuskan pada deteksi dini dan pengobatan awal. Kemenkes mendorong masyarakat, terutama penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan penyakit jantung, untuk mengenali tanda-tanda perburukan kondisi kesehatan.
"Segera ke fasilitas kesehatan terdekat dan memastikan obat-obatan tersedia," ucapnya.
Adapun strategi tersier ditujukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, dan kematian pada masyarakat yang telah mengalami gangguan kesehatan.
Kemenkes mengimbau masyarakat yang sudah memiliki penyakit untuk mengikuti terapi dan mengonsumsi obat sesuai petunjuk dokter. Masyarakat juga diminta berhenti merokok, karena kebiasaan tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Jika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien akan diarahkan untuk mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan rujukan.
Lebih lanjut, Then menegaskan bahwa penanganan dampak kesehatan karhutla membutuhkan kesiapsiagaan dari masyarakat dan fasilitas kesehatan secara bersamaan. Kemenkes juga telah melakukan pemantauan penyakit melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), surveilans kualitas udara, serta edukasi kepada masyarakat.
Selain itu, Kemenkes telah menerbitkan Surat Edaran Kewaspadaan Menghadapi Potensi Peningkatan Kebakaran Hutan dan Lahan, Polusi Udara, dan Penyakit Sensitif Iklim pada Musim Kemarau.
Kesiapsiagaan juga diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah serta mobilisasi sumber daya manusia dan logistik, termasuk penyiapan rumah sakit, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan Public Safety Center (PSC).










